Selasa, 01 September 2015

HUMANIS: Internet; Runduk di Hadapan Rezim Kuantitas...


(ilustrasi: vulcanpost.com)


Oleh: Zen R.S. (esais, bisa ditemukan di @zen.rs

Yang berbahaya dari rendahnya minat baca adalah tingginya minat berkomentar. Komentar yang sembrono menjadi masalah jika diungkapkan di ruang publik, misalnya media sosial.
Ribuan orang yang juga malas membaca akan dengan enteng menyebarkannya sebagai kebenaran. Dampaknya, kebenaran dalam diskursus publik tak lagi ditakar dari kukuhnya argumen atau akuratnya data. Tapi oleh jumlah retweet, like dan share.
Jika kadung menyebar, sebuah komentar yang gegabah akan sulit "dikandangkan", bahkan walaupun sudah dibantah, terbukti keliru, dan tertangkap basah sebagai hal yang salah. Bayangkan jika komentar yang gegabah atau data yang keliru sudah di-retweet, di-like, dan di-share ribuan orang. Mustahil mengembalikannya ke situasi awal.
Komentar atau informasi dengan cepat menyebar karena ditentukan jumlah follower orang yang menyebarkannya kali pertama. Semakin banyak yang menyebarkan, semakin meyakinkan pula status "kebenaran" dari komentar dan informasi tersebut.

Internet, tak terkecuali media sosial, memang berwatak anarkis. Ia menumbangkan banyak otoritas informasi dan pengetahuan: dari mesia massa yang gigih melakukan verifikasi, para akademisi yang tekun melakukan penelitian, hingga para intelektual yang gigih menuliskan pokok pikiran dalam ratusan naskah buku atau artikel yang serius.
Institusi "kuno" yang sekian lama menjadi sumber pengetahuan, misalnya kampus atau perpustakaan, bisa tak berguna di hadapan pembelajar gigih nan keras kepala yang dipersenjatai bandwidth memadai. Si pembelajar dengan gampangnya membaca buku-buku babon yang sudah menjadi klasik maupun jurnal-jurnam yang merilis hasil riset-riset terbaru. Tak perlu kampus, dosen, dan uang SPP untuk menjadi cerdas.
Sialnya, institusi "kuno" yang teruji dalam memproduksi pengetahuan itu pun bisa tak dianggap oleh orang yang malas belajar, bebal, dan tak doyan membaca, namun punya koneksi internet lancar yang memungkinkannya mengakses orang/institusi/media yang dijadikan sumber informasi dan pengetahuan. Mulai media penyebar hoax, tokoh partai, hingga para selebtweet.

Di hadapan para pengikutnya yang malas belajar dan tak doyan membaca, betapa besarnya tanggung jawab yang diemban orang yang punya follower ratusan ribu orang di Twitter misalnya. Sekali melempar komentar yang sembrono atau menyebarkan berita bohong, akan ada ribuan orang yang akan membacanya.
Apalagi jika laku gampangan menyebarkan informasi yang tak benar itu tidak semata disebabkan kemalasan membaca, tapi juga dilambari kebencian. Ini lebih mustahil lagi untuk dikembalikan ke situasi awal sebelum komentar atau informasinya tersebar. Kebencian akan membuat kesalahan akan tetap dibela dan kebenaran akan selalu dianggap dusta.
Dialog menjadi sulit dilakukan karena informasi menjadi kelewat segmentatif: informasi X hanya untuk umat X, informasi Y hanya untuk jemaat Y. Sebab, orang hanya mau membaca apa yang dianggap cocok dengan kehendak, pikiran, dan pilihan masing-masing. Bahkan, informasi pun, akhirnya, punya "agama" atau "ideologi".

Dampak turunannya adalah kekuatan dalam hal kuantitas juga. Seribu retweet informasi yang salah harus diimbangi ralat/koreksi/bantahan dengan jumlah retweet yang lebih banyak. Harapannya: makin banyak yang membaca, makin banyak pula orang yang bisa dijauhkan dari informasi yang salah atau komentar yang sembrono.
Ruang publik akhirnya menjadi pekak oleh teriakan yang saling bersaing. Sebab, untuk didengar orang lain, harus berteriak dengan volume yang mengalahkan teriakan rivalnya. Volume bersaing dengan volume, jumlah bersaing dengan jumlah. Inilah "rezim kuantitas".

Hanya dengan memahami "rezim kuantitas" yang menciptakan ruang publik yang pekak oleh persaingan volume teriakan inilah, kita bisa mengerti mengapa beberapa orang merasa perlu membuat situs. Misalnya, Islam Toleran untuk menandingi situs seperti Ar-Rahmah.
Itu menjelaskan tidak mudahnya menhindar dari ruang yang pekak oleh teriakan yang volumenya saling bersaing tersebut. Seseorang yang hendak mencoba "menyehatkan" arus informasi yang keruh oleh kekeliruan, dusta, dan hoax dengan cara menyodorkan informasi tandingan dengan data yang lebih lengkap dan akurat pun rentan terjebak pada perilaku yang serupa: sama-sama harus berteriak, saling menyebarkan tautan dengan sejawat yang sependirian, sama-sama berebut menjadi viral.

Bukan argumentasi dan datanya yang diperkuat, tapi volume teriakannya yang diperbesar.
Bukan hanya bersaing dalam volume, tapi juga dalam kecepatan. Informasi yang keliru tidak boleh dibiarkan leluasa menguasai media sosial. Harus direspons dan dijawab dengan secepat-cepatnya. Kicauan dibalas kicauan, kultwit dibalas dengan kultwit.

Membaca menjadi sesuatu yang sulit dilakukan dalam iklim seperti ini. Yang saya maksudkan dengan "membaca" adalah praktik mempelajari sesuatu dengan lengkap, utuh. Tidak sepotong-potong. Mempelajari dengan ketekunan memahami konteks sebuah informasi, data dalil, atau kutipan -pendeknya mempelajari apa yang dalam khazanah ilmu tafsir disebut ashab al-nuzul.

Seseorang yang menggelar praktik pembacaan seperti itu umumnya tidak gampangan untuk berkomentar. Dia akan menegekang dirinya agar tak mudah reaktif menanggapi sesuatu. Kehati-hatian dalam menyikapi sebuah fenomena menjadi modus mereka yang membaca denga disiplin. Selalu dibutuhkan waktu untuk bersikap. Sebab, berkomentar harus didahului telaah.
Orang-orang yang seperti itu cenderung tidak kompatibel dengan kondisi yang sangat dipengaruhi "logika kuantitas" ini. Mereka akan terasing di tengah persaingan volume dan kecepatan dalam berteriak. Mereka akhirnya serupa padi penuh isi yang merunduk, sementara semak dan alang-alang tak berguna malah menjulang tinggi ke udara.

Di sinilah letak dilema ilmu padi: yang berisi tak terlihat, yang tak berisi malah menjadi tokoh -sebagian di antaranya malah punya kuasa menentukan hajat hidup orang banyak. Alamak!



SUMBER: Jawa Pos, 1 September 2015.