Senin, 03 Agustus 2015

SOCCERIOR : Sir Alex Ferguson yang Tetap Kaya dan Sibuk setelah Pensiun.


Setelah Sir Alex Ferguson mundur sebagai manajer Manchester United, kegiatannya tetap saja segunung. Selain merawat kuda, dia mengajar, menulis buku, hingga menjadi pembicara dan duta klub.
_______________________________________________________________________________________________________

TETAP KAYA : Pemasukan dari buku otobiografinya mencapai Rp 20 miliar dari seluruh dunia.(dailymail.co.uk)

Setelah Sir Alex Ferguson pensiun pada pengujung musim 2012-2013, Arsene Wenger mengungkapkan bahwa keinginan mengikuti jejak mantan pelatih Manchester United tersebut beberapa kali melintas. Apalagi setelah manajer Arsenal berusia 65 tahun itu bertemu langsung dengan pria yang akrab disapa Fergie itu musim lalu di Old Trafford, Manchester.
"Ketika saya tanya apa dia (Fergie) tidak kangen (kembali melatih), dia bilang sudah cukup. Dia masih rutin menonton pertandingan. Dia punya kuda, sedangkan saya tidak," kata Wenger dalam wawancara dengan Daily Mail, Kamis (23/7).
Kuda memang passion terbesar Fergie di luar sepak bola. Manajer yang mengantarkan United menjuarai Premier League 13 kali itu tercatat pernah menjadi co-owner Rock of Gibraltar, kuda legendaris yang memenangi banyak lomba pacuan bergengsi di Inggris Raya, Republik Irlandia, Perancis, dan Amerika Serikat.

Tetapi, kudan dan pacuan  hanyalah sebagian kesibukan pria 73 tahun tersebut yang membuatnya tidak lagi merindukan berdiri di pinggir lapangan sebagai manajer. Hari-hari pria Skotlandia yang memperoleh gelar kebangsawanan Inggris tertinggi, Sir, pada 1995 itu juga banyak diisi menjadi pembicara di berbagai acara.
Termasuk dikontrak sebagai dosen di Executive Education, Harvard Business School, Amerika Serikat. Dia mulai bertugas pada Mei lalu dengan memberikan kuliah kepada para eksekutif senior dari berbagai belahan dunia sebagai bagian dari program baru di Harvard Business School, yakni The Business Entertainment, Media dan Sports.
"Saya gembira bisa mendapat kesempatan dan kehormatan untuk turut berkontribusi pada institusi pendidikan yang sangat dihormati," tutur Fergie sebagaimana dilansir situs resmi Harvard Business School.

Tidak hanya mengajar, Ferguson juga tengah merampungkan sebuah buku tentang ilmu manajemen, terutama terkait dengan pengalamannya berkecimpung dalam dunia kepelatihan selama 39 tahun.
Buku yang berjudul Leading tersebut resmi mulai diedarkan di pasaran pada 22 September mendatang. Menurut pria yang 2 kali mengantarkan United menjuarai Liga Champions itu, buku yang dituliskannya bersama penulis kenamaan Inggris, Sir Michael Moritz merupakan hasil refleksinya sejak pensiun sebagai pelatih.
"Proses untuk membuat buku ini dimulai beberapa tahun yang lalu sejak perbincangan pertama saya dengan Mike (Sir Michael Moritz, Red)," paparnya dilansir dari Herald Scotland.

Pada 2013, setlah mundur dari United, Fergie telah pula merilis buku otobiografi yang laris dimana-mana dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Nah, berbagai kesibukan itulah yang membuat pria yang memenangkan 38 tropi selama 27 tahun menangani United tersebut tetap tebal. Pulse melansir, pada tahun pertama pascapensiun, perusahaannya, ACF (Alexander Chapman Ferguson) Sports Promotions, mencatat total aset 11.385.431 pounds atau Rp 236,64 miliar per 30 Juni 2014.

Salah satu pundi uang itu berasal dari bayarannya sebagai duta United sebesar 2 juta (Rp 41,8 miliar) per tahun. Selain itu, otobiografinya yang berjudul My Autobiography terjual total sejuta eksemplar di seluruh dunia dengan pemasukan nominal mencapai 1 juta pounds (Rp 20,5 miliar).
Manajer kelahiran Glasgow tersebut juga menerima bayaran 100 ribu pounds atau Rp 2,09 miliar setiap kali menjadi pembicara di berbagai seminar motivasi.

Dalam wawancaranya dengan MUTV tahun lalu, Fergie begitu manikmati semua aktivitas setelah tidak lagi terbelenggu dalam rutinitas untuk membentuk tim yang harus menjadi juara dari musim ke musim.
"Saya bisa bepergian, melakukan hal yang saya sukai, dan bisa menonton pertandingan dari sudut pandang lain. Ini sangat menarik. Mungkin problem saya sekarang adalah mencari waktu untuk bersantai," ujarnya dilansir dari Daily Mail.

Mungkin berkaca kepada pengalaman Fergie itulah, Wenger menyebutkan bahwa keinginan mundur dari kursi kepelatihan tersebut hanay bertahan paling lama lima detik. Sebab, ternyata rival lamanya itu tidak cuma mengandalkan kuda agar bisa bahagia setelah pensiun.


SUMBER : Jawa Pos, 24 Juli 2015.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar