Rabu, 05 Agustus 2015

SOCCERIOR [Depth News] : Reformasi Hak Siar Televisi Liga Primera Spanyol.

Pembagian hak siar di kompetisi Liga Primera Spanyol dianggap tidak adil. Dua klub raksasa, Real Madrid dan Barcelona, mendapat jatah jauh lebih banyak daripada 18 tim lain. Pemerintah Spanyol turun tangan dengan menyiapkan skema baru yang lebih adil.
_________________________________________________________________________________________________________________________

Hak Siar Jumbo : Gareth Bale melepaskan tendangan dari kawalan Mascherano musim lalu. Real Madrid dan Barcelona menjadi klub dengan pendapatan tertinggi di Spanyol dari hak siar televisi.(telegraph.co.uk)

Isu hak siar di Liga Primera Spanyol seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja. Klub-klub menengah dan kecil menjerit karena merasa dianaktirikan. Sejak 3 musim yang lalu, mereka menuntut adanya reformasi pembagian jatah hak siar. Harapannya, klub-klub tersebut mendapatkan jatah hak siar yang lebih besar.

Owner klub Malaga Sheikh Abdullah bin Nasser Thani dan Wakil Presiden Sevilla Jose Maria Crus termasuk yang paling keras menyuarakan tuntutan tersebut. Mereka mengecam keberpihakan jatah hak siar yang menganakemaskan Real dan Barca.
Dengan format lama, Barca dan Real mendapatkan "porsi kue" hak siar televisi lebih besar. Dari jatah 600 juta euro atau sekitar 8,8 triliun, hampir separo mengalir ke kantong dua klub besar tersebut. Real dan Barca mendapatkan jatah yang sama, yakni 140 juta euro (sekitar Rp 2 triliun).
Nominal itu jauh lebih besar dibandingkan yang didapat klub-klub lain. Valencia, misalnya, yang berada di bawah Real dan Barca "hanya" kebagian 48 juta euro atau sekitar Rp 710 miliar. Sementara itu, Sevilla harus pasrah menerima 32 juta euro (sekitar Rp 476 miliar). Karena itu, Crus menyebut perlakuan itu sebagai diskriminasi.

Nah, pola seperti itu berubah pada musim depan. Penentuan nominal hak siar tidak lagi berdasar polling popularitas klub. Hak siar dibagi sesuai dengan ketentuan yang diterapkan pemerintah Spanyol melalui Kementerian Olahraga.
Ada 3 aspek yang menentukan pembagian jatah hak siar klub. Pertama, 50 persen dari total hak siar dibagikan secara merata kepada 20 kontestan Liga Primera. Kedua, 25 persen berikutnya dibagikan sesuai dengan peringkat 3 musim terakhir. Ketiga, 25 persen yang lain dibagi sesuai jumlah penonton televisi.
Perubahan format itu memang tidak akan berdampak signifikan bagi pemasukan Barca dan Real. Tetapi, hal itu dianggap lebih adil. Paling tidak perbedaan hak siar antara klub besar dan kontestan lain tidak sampai tiga kali lipatnya, seperti sekarang.
"Keputusan kerajaan ini bertujuan untuk mengakhiri ketidakseimbangan besaran income setiap klub," ujar Menteri Kebudayaan dan Olahraga Spanyol, Jose Ignacio Wert dilansir dari situs Goal.

Menurut lembaga audit Deloitte, pemasukan Real musim lalu mencapai 549 juta euro (sekitar Rp 8,1 triliun). Dari jumlah itu, sebanyak 37 persen atau 204 juta euro atau sekitar Rp 3 triliun, diraih dari hak siar.
Perbandingan pemasukan hak siar televisi antara Barca dan Real dengan klub-klub kecil sperti Granada, Elche, Real Valladolid, Rayo Vallecano dan Almeria bagaikan bumi dan langit. Lima klub tersebut musim lalu hanya mendapat porsi 18 juta euro atau sekitar Rp 266 miliar.

Pembagian hak siar di Spanyol memang sangat njomplang, sedangkan di liga-liga lain relatif lebih adil. Di Premier League Inggris, misalnya, hak siar klub tertinggi dan terendah "hanya" teraput 42,5 juta euro (sekitar Rp 621 miliar).
Alhasil, pemasukan hak siar juara Spanyol musim lalu, Atletico Madrid, kalah oleh klub degradasi Premier League musim lalu, Cardiff City. Atletico meraup 42 juta euro atau sekitar Rp 621 miliar. Sementara itu, Cardiff mendapatkan 74,5 juta euro atau sekitar Rp 1 triliun.
"Mungkin ini satu-satunya cara yang bisa ditempuh supaya sepak bola Spanyol tidak kehilangan gengsi dengan liga-liga besar Eropa lain. Ini momen bersejarah bagi sepak bola Spanyol," tutur Sekretaris Negara untuk Olahraga, Miguel Cardenal.

Rencana perubahan sistem pembagian hak siar tersebut ditentang RFEF (Federasi Sepak Bola Spanyol). Mereka menuding hal itu sebagai intervensi pemerintah. Asosiasi Pemain Sepak Bola Spanyol (AFE), ikut menentang. Mereka bahkan sempat mengancam mogok bertanding pada pekan ke-37 Liga Primera.
Meski begitu, pemerintah Spanyol jalan terus. Cardenal mengatakan, sistem baru itu justru menguntungkan pemain. "Pemain akan mendapat gaji lebih besar diabndingkan sekarang. Dengan kesejahteraan pemain yang bagus, dengan sendirinya tidak sulit menjadikan Liga Primera sebagai kompetisi yang kompetitif," katanya disitus abc.es.
Dia mengakui langkah tersebut adalah intervensi. Namun, pihaknya tidak gentar dengan ancaman sanksi FIFA. "Tidak, kami sama sekali tidak khawatir. Sebab, regulasi yang kami siapkan ini hampir sama dengan negara-negara lain. Italia sudah beberapa tahun terakhir menerapkan standar yang sama. Seharusnya tidak ada masalah dengan langkah kami itu," tegasnya.

TV Berpihak Kepada Pasar.

Hak siar kompetisi Liga Primera Spanyol dipegang perusahaan televisi Mediapro. Klub terikat kontrak jangka panjang selama sepuluh tahun, mulai 2006 hingga 2016. Hal tersebut membuat klub tidak bisa leluasa bernegosiasi. Nah, itulah yang dirombak lewat regulasi baru yang disiapkan pemerintah Spanyol.
"Aturan baru ini otomatis membuat perusahaan media tak sewenang-wenang salam membuat kontrak dengan klub," kata Presiden LFP (operator kompetisi Spanyol), Javier Tebas kepada BBC.

Dalam aturan lama, segala urusan hak siar dilakukan masing-masing klub. Hasilnya, klub besar mendapat hak siar jumbo. Sebaliknya, klub kecil harus rela mendapat nilai sekenanya.
"Karena itu, wajar jika TV memberlakukan pembagian hak siar yang tak adil. Mereka melakukan itu karena keinginan pasar, bukan didasari keinginan untuk memajukan sepak bola Spanyol secara keseluruhan," ujar Tebas.

Aturan baru itu membuat Mediapro gelisah. "Berat untuk diakui. Namun, ini merupakan realitas bahwa hal yang bisa dijual dari Liga Spanyol adalah persaingan Real Madrid dan Barcelona," kata Wakil Presiden Mediapro Mario Bayarri pada acara Soccer Expo Asian Forum di Jordania.
Regulasi anyar tersebut memaksa Mediapro mengeluarkan dana lebih besar. Karena itu, Bayarri mengungkapkan, ketimbang ngotot memperjuangkan hak siar, lebih baik klub-klub berbenah agar sponsor mau datang. "Yang penting sekarang semua klub harus memiliki platform yang baik untuk menarik sponsor," jelasnya.


PEMBAGIAN HAK SIAR (musim lalu).

Liga Primera Spanyol :
  • Real Madrid = Rp 2,09 triliun.
  • Barcelona = Rp 2,09 triliun.
  • Valencia = Rp 717,6 miliar.
  • Atletico Madrid = Rp 627,9 miliar.
  • Sevilla = Rp 478,4 miliar.
  • Athletic Bilbao = Rp 478,4 miliar.
  • Villareal = Rp 478,4 miliar.
  • Real Betis = Rp 448,5 miliar.
  • Espanyol = Rp 418,6 miliar.
  • Real Sociedad = Rp 373,7 miliar.
  • Malaga = Rp 373,7 miliar.
  • Getafe = Rp 373,7 miliar.
  • Osasuna = Rp 328,9 miliar.
  • Celta Vigo = Rp 328,9 miliar.
  • Levante = Rp 328,9 miliar.
  • Granada = Rp 269,1 miliar.
  • Elche = Rp 269,1 miliar.
  • Real Valladolid = Rp 269,1 miliar.
  • Rayo Vallecano = Rp 269,1 miliar.
  • Almeria = Rp 269,1 miliar.
Premier League Inggris :
  • Liverpool = Rp 1,74 triliun.
  • Manchester City = Rp 1,73 triliun.
  • Chelsea = Rp 1,68 triliun.
  • Arsenal = Rp 1,66 triliun.
  • Tottenham Hotspur = Rp 1,60 triliun.
  • Manchester United = Rp 1,59 triliun.
  • Everton = Rp 1,52 triliun.
  • Newcastle United = Rp 1,38 triliun.
  • Southampton = Rp 1,37 triliun.
  • Stoke City = Rp 1,35 triliun.
  • Swansea City = Rp 1,33 triliun.
  • West Ham United = Rp 1,32 triliun.
  • Crystal Palace = Rp 1,31 triliun.
  • Aston Villa = Rp 1,29 triliun.
  • Sunderland = Rp 1,28 triliun.
  • Hull City = Rp 1,20 triliun.
  • West Bromwich Albion = Rp 1,17 triliun.
  • Norwich City = Rp 1,15 triliun.
  • Fulham = Rp 1,13 triliun.
  • Cardiff City = Rp 1,11 triliun.
Serie A Italia :
  • Juventus = Rp 1,39 triliun.
  • Inter Milan = Rp 1,19 triliun.
  • AC Milan = Rp 1,15 triliun.
  • AS Roma = Rp 913 miliar.
  • Napoli = Rp 890 miliar.
  • Lazio = Rp 741 miliar.
  • Fiorentina = Rp 660 miliar.
  • Torino = Rp 528 miliar.
  • Udinese = Rp 519 miliar.
  • Parma = Rp 510 miliar.
  • Sampdoria = Rp 510 miliar.
  • Genoa = Rp 495 miliar.
  • Cagliari = Rp 459 miliar.
  • Bologna = Rp 446 miliar.
  • Catania = Rp 437 miliar.
  • Atalanta = Rp 433 miliar.
  • Chievo Verona = Rp 386 miliar.
  • Hellas Verona = Rp 345 miliar.
  • Livorno = Rp 290 miliar.
  • Sassuolo = Rp 175 miliar.
Bundesliga Jerman :
  • Bayern Muenchen = Rp 549 miliar.
  • Borussia Dortmund = Rp 528 miliar.
  • Bayer Leverkusen = Rp 500 miliar.
  • Schalke 04 = Rp 495 miliar.
  • Borussia Monchengladbach = Rp 474 miliar.
  • Hannover 96 = Rp 456 miliar.
  • Wolfsburg = Rp 447 miliar.
  • Mainz 05 = Rp 431 miliar.
  • Freiburg = Rp 418 miliar
  • VfB Stuttgart = Rp 404 miliar.
  • Werder Bremen = Rp 389 miliar.
  • Hoffenheim = Rp 373 miliar.
  • Hamburger SV = Rp 357 miliar.
  • Nurnberg = Rp 340 miliar.
  • Eintrach Frankfurt = Rp 322 miliar.
  • Augsburg = Rp 305 miliar.
  • Hertha Berlin = Rp 287 miliar.
  • Braunschweig = Rp 270 miliar.
NOMINAL HAK SIAR LIGA ELITE EROPA.

- Premier League; TV domestik = Rp 22 triliun dan TV internasional = Rp 15 triliun
Total Rp 37 triliun.

- Serie A Italia; TV domestik = Rp 16,5 triliun dan TV internasional = Rp 3,2 triliun.
Total Rp 19,7 triliun.

- Bundesliga; TV domestik = Rp 11 triliun dan TV internasional = Rp 2,5 triliun.
Total Rp 13,5 triliun.

- Ligue 1 Perancis; TV domestik = Rp 12,3 triliun dan TV internasional = Rp 2,5 triliun.
Total Rp 13 triliun.

- Liga Primera; TV domestik = Rp 11 triliun dan TV internasional = Rp 1,6 triliun.
Total Rp 12,6 triliun.

 
Menjual Sepak Bola Seperti Drama.


Menarik : Arsene Wenger dan Jose Mourinho bersitegang dalam laga musim lalu.(toovia.com)

Inggris adalah contoh sahih bagaimana kompetisi sepak bola menjelma menjadi industri yang menggiurkan. Industrialisasi sepak bola di Inggris mulai digarap pada abad ke-20. Pengoptimalan sisi bisnis bermula dari TV rights.

Dalam film dokumenter berjudul The Men Who Changed Football yang digarap BBC, diceritakan pada awal 1990 para petinggi Liverpool, Manchester United, Arsenal, Tottenham Hotspurs, serta Everton menggelar rapat dengan ITV (Independent TV) dan BBC selaku pemegang hak siar Liga Inggris.
Maka lahirlah proposal One Game, One Team, One Voice yang diajukan kepada FA. Isinya adalah klub menginginkan pengelolaan liga secara mandiri. Ditunjuklah Alex Fynn, direktur Saatchi & Saatchi, sebuah agensi periklanan raksasa London, sebagai konseptor awal pembentukan kompetisi baru.
 Alex meyakinkan FA bahwa ada uang yang bisa didapat dari hak siar televisi. FA pun setuju. Kemudian, lahirlah Premier League pada 1992. Berdirinya Premier League berbarengan dengan berakhirnya kontrak hak siar dengan BBC dan ITV.

Melihat potensi yang menguntungkan, masuklah pengusaha Amerika Serikat, Rupert Murdoch lewat perusahaan TV Sky Sports. Berbeda dengan pengelola hak siar sebelumnya yang menggratiskan tontonan kepada pemirsa dan hanya mengandalkan pemasukan dari iklan, Sky Sports adalah televisi berbayar (pay TV) yang sumber utamanya dari iuran pelanggan.
Mereka masuk ke Inggris dengan modal besar. Nilai kontrak dengan klub dinaikkan hampir 240 persen. Berkat Sky Sports, sepak bola diubah tak hanya sebatas olahraga, namun dijadikan pula sebagai sportainment.
"Olahraga sebagai drama dan olahraga sebagai opera sabun itulah yang orang ingin saksikan di televisi," ujar Dave Hill, bos Sky Sports, kepada BBC. "Kami adalah platform revolusi komersial sepak bola. Hal ini untuk menarik pelanggan," katanya.

Ketika Asia Menjajah Eropa.


Gila Bola : Meski konflik bersenjata terus berlangsung, tentara Iraq masih sempat bermain bola saat bertugas di Tikrit.(independent.co.uk)

Tidak ada yang membantah bahwa sepak bola adlah olahraga paling populer di muka bumi. Survei FIFA menyebutkan, lebih dari 1,6 miliar orang terikat dengan sepak bola. Hampir separo atau 659 juta di antaranya tinggal di Asia.
Fakta itu membuat Asia menjadi target pasar yang menggiurkan bagi klub-klub besar Eropa. Kedigdayaan Asia doperbesar dengan jumlah penonton televisi yang sangat banyak. Sebanyak 100 juta warga Asia menyaksikan Premier League Inggris pada setiap akhir pekan.

Untuk memaksimalkan pasar Asia, pengelola Premier League melakukan berbagai cara. Salah satunya, menyesuaikan jadwal pertandingan dengan prime time warga Asia. Halisnya, kick-off Premier League dimajukan.
"Momen pukul 7 sampai 10 malam adalah waktu yang sempurna untuk branding promosi di pasar Asia. Jika klub Eropa memaksa bermain sore atau malam, otomatis sedikit penonton Asia yang bisa menikmati pertandingan itu. Sebab, mereka memaksa orang Asia harus bangun di tengah malam atau pagi buta," ucap Christopher Harris, chief editor World Soccer Talk.

Apa yang dilakukan di Inggris kemudian ditiru Liga Italia, Spanyol dan Jerman. Tak hanya sekadar mengganti jam tayang, mereka mulai menggeser jadwal pertandingan dari Minggu malam ke Sabtu malam.
"Sepak bola saat ini bukan semata olahraga, tapi jadi hiburan penghilang penat di akhir pekan. Tentu akan naif jika hiburan itu diberikan kepda penonton saat mereka keesokan harinya mesti kembali ke rutinitas pekerjaan," papar Harris.
"Bermain pada Sabtu bagi orang Inggris tak masalah karena itu budaya yang melekat sejak abad ke-19. Namun, hal itu jadi konyol jika dilakukan di Jerman, Spanyol atau Italia. Dengan uang, tradisi pun bisa berubah," paparnya.

Di Spanyol, upaya tersebut gencar dilakukan sejak 2011. Hal itu diakui Direktur Liga Spanyol (LFP), Francisco Roca. " Upaya yang kami lakukan memang untuk merangkul pasar Asia," katanya.
Untuk mempermudah kampanye tersebut, LFP membuat program LFP World Challenge. Salah satu program yang mereka lakukan adalah mengirim klub-klub Liga Primera ke Asia. Misalnya, mendatangkan Sevilla ke Indonesia dan Almeria ke Thailand.

Terkait jadwal bermain si siang bolong, klub tidak ambil pusing. Direktur Real Madrid Emilio Butragueno menyebutkan, keputusan itu merupakan solusi agar Liga Primera bisa bersaing dengan Premier League. "Kita harus memahami, ada potensi yang luar biasa untuk membuat liga kami yang universal dengan mengeksplor berbagai ide, termasuk mengubah jam pertandingan," ungkapnya pada Football Espana.




SUMBER : Jawa Pos, 17 Mei 2015.