Senin, 09 Februari 2015

CERPEN : KAKI GAJAH



Bel berbunyi dan murid-murid masuk ke kelas. Mot Monyet duduk sebangku dengan Bona Gajah. Telinga dan kaki Bona besar sekali. Pak Guru belum datang, jadi Mot bisa seenaknya memandang teman duduknya. Mula-mula dipandanginya kaki Bona, kemudian kakinya sendiri. Astaga, betapa berbedanya. Kaki Bona besar dan kelihatannya berat benar. Sedangkan kakinya sendiri kurus dan jari-jarinya panjang-panjang.
”Apa sih yang kau lihat?” Tanya Bona tiba-tiba. ”Ap….Apa? Oh tidak,” jawab Mot Monyet gugup. Dia lalu membuka tasnya dan pura-pura mencari sesuatu di dalam tas itu. Tapi begitu Bona melihat ke arah lain, Mot mulai lagi melirik kaki Bona.
“Kau boleh melihat kakiku, silakan,” kata Bona. ”Heran aku. Kenapa sih dari tadi kau melihat kakiku dengan sembunyi-sembunyi? Apanya yang aneh?”
Mot terkejut sekali, sampai dia tak bisa berkata apa-apa. Tapi kemudian dia berkata, ”Aku ingin tahu,bagaimana caramu menulis. Kakimu besar sekali dan tak ada jarinya. Bagaimana caramu memegang pensil?” Wah, terlalu ya si Mot. Bona tertawa terbahak-bahak. ”Ha,ha,ha! Kau ingin tahu, ya.Tunggu saja. Kau akan melihat sendiri nanti.”
Pak guru masuk kelas dan berkata, ”Selamat pagi,semua! Sekarang keluarkan buku tulis kalian. Lalu tulislah nama kalian di halaman pertama buku itu.” Mot Monyet cepat-cepat menuliskan namanya, lalu memandang Bona. Oh, begitu rupanya! Bona memegang pensil dengan belalainya, lalu dengan hati-hati menuliskan namanya. Tulisannya kecil-kecil dan bagus.
“Kau cerdik,” kata Mot. Setelah itu buku mereka dikumpulkan. Ketika buku-buku itu dibagikan kembali oleh Pak Guru, ternyata tulisan Bona mendapat nilai yang paling bagus. Mot Monyet memandanginya dengan kagum. Sejak itu dia tak pernah lagi mengejek kaki Bona yang besar.
 
Disadur dari majalah BOBO, No. 18
Tahun XXXI, 7 Agustus 2003

Tidak ada komentar:

Posting Komentar