Senin, 16 Februari 2015

Teropong IPTEK : IKHTISAR SEJARAH PENEMUAN KERTAS, SENI ILUSTRASI DAN TEKNIK MENCETAK; Bab I (Bagian Kedua)

SAMBUNGAN....




Papyrus, Bahan Klasik untuk Tulis-menulis di Zaman Mesir Kuno

Lebih kurang 3000 tahun sebelum Masehi, bangsa Mesir Kuno menggunakan lembaran-lembaran papyrus sebagai bahan untuk menulis dalam tanda-tanda tulisan Hieroglyph atau tanda-tanda suci. Bangsa-bangsa lain, seperti Persia, India, Yunani dan lain-lain juga menggunakannya. Kendati bahan papyrus bukan kertas sebenarnya seperti yang kita pergunakan sekarang, namun ia merupkan material yang cukup ampuh dalam melestarikan perkembangan kebudayaan bangsa Mesir semenjak ribuan tahun silam. Bahkan masih ada saja gulungan-gulungan papyrus yang ditemukan dalam penggalian-penggalian, tempat bangsa Mesir Kuno pernah bermukim.

Tanaman Papyrus yang tumbuh subur rawa-rawa Sungai Nil.

Kata-kata "paper", "papier", dan lain-lain berasal dari kata-kata Yunani dan Latin, "papurus" dan "papyrus". Istilah "bublois" dalam bahasa Yunani digunakan untuk menandai serat dari tanaman papyrus itu dan menulis di atas lembaran papyrus disebut "biblios", dalam bahasa Latin juga disebut sebagai "biblia" dan oleh karena itu Kitab Injil disebut Bible.
Gulungan papyrus itu dibuat dari batang-batang tanaman Cyperus Papyrus yang tumbuh subur dalam rawa-rawa sungai Nil. Batang-batangnya yang berbentuk segi tiga itu dengan ketinggian 3-4 meter, dikupas kulitnya dan dipotong-potong dalam belahan-belahan kecil. Belahan-belahan itu disusun bersilang satu sama lain. Lapisan berganda yang telah terbentuk itu disatukan dengan cara diberi lem yang dibuat dari tumbuh-tumbuhan, dipukul, diketuk, digosok dan diperas lalu dikeringkan.

Sesudah itu permukaannya dilicinkan dengan batu atau lokan dan seluruhnya sekali lagi dikerjakan dengan menggunakan minyak seder, barulah lembaran-lembaran itu siap digunakan sebagai bahan untuk menulis dalam tanda-tanda Hieroglyph. Setelah itu digulung antara dua tongkat. Untuk melindungi gulungan papyrus yang sudah ditulis, digunakan tabung kayu hitam yang berhiaskan emas dan permata. Gulungan papyrus yang sudah ditulis disebut "buku dalam gulungan", untuk membedakannya dari "buku dalam halaman".
Menulis buku dalam gulungan, merupakan pekerjaan yang sangat lambat dan membosankan, namun secara historis tidak pernah tercatat, bahwa bangsa-bangsa Mesir, Phunesia, Yunani, dan Romawi di zaman kuno menemukan ide dalam mencetak buku-buku. Bangsa-bangsa tersebut memang berhasil membentuk alfabet menurut tulisan mereka masing-masing, namun tentang teknik dan seni cetak, mereka belum tahu. Papyrus memang berhasil digunakan selama lebih dari 3000 tahun untuk mencerdaskan bangsa dan umat manusia lainnya, namun produksi papyrus berakhir setelah Mesir dikuasai dan diduduki oleh bangsa Romawi.


PERKAMEN

Sekitar 300 tahun sebelum Masehi di kota Pergamum, di Asia Kecil (Turki), muncul sejenis bahan yang bagus sekali untuk menulis dan terkenal dengan sebutan "perkamen", sesuai dengan nama kota Pergamum itu. Penemuan bahan perkamen tersebut sangat dihargai oleh warga kota Pergamum, karena bahan baru itu memang bertujuan untuk menyaingi bahan papyrus dari Mesir.

Selama abad ke 2 Masehi, pemerinta Mesir tidak mengizinkan lagi bahan tulis mereka di ekspor ke luar negeri. Perkamen sendiri dibuat dari kulit biri-biri. Kulit hewan kecil itu dipotong-potong. Di baliknya yang berupa daging, dirubah menjadi perkamen. Kulit itu tepat sekali untuk keperluan menulis. Metode penanganan kulit untuk pembuatan perkamen itu dilaksanakan sebagai berikut; 
Setelah kulit biri-biri itu dipotong-potong lalu dicuci dengan menggosoknya dengan lem. Untuk menghilangkan bulunya, kulit biri-biri itu dikeruk dengan pisau melengkung. Selanjutnya dibersihkan lagi. Kulit yang sudah dibersihkan itu di tarik sekuat-kuatnya dengan tali kulit pada bingkai kerangka kayu dalam bentuk persegi empat. Dilanjutkan dengan mengeruknya untuk mengupas ketidakrataan pada kulit itu dengan membuat seluruh kulit sama tebal. Akhirnya kulit itu ditaburi dengan tepung kapur dan secara ahli digosok dengan batu timbul. Metode ini hingga sekarang masih dipergunakan. Tetapi dengan cara yang lebih efektif menurut sifatnya.

Contoh Pembuatan Perkamen

Penggunaan perkamen hingga saat ini terutama untuk membuat dokumen, surat berharga dan piagam-piagam, karena ketahanannya lebih baik dari kertas biasa. Perkamen juga digunakan untuk penjilidan (sampul) buku yang dihias secara dekoratif dan merupakan seni tersendiri di abad ke 15 Masehi. Tidak terkecuali untuk halaman-halaman buku yang seluruhnya ditulis tangan berikut ilustrasinya. Yakni buku-buku tentang keagamaan yang hanya dapat dimiliki oleh orang-orang berada.


*****



Sumber artikel : buku IKHTISAR SEJARAH PENEMUAN KERTAS, SENI ILUSTRASI DAN TEKNIK MENCETAK, oleh Baharudin M,S. Penerbit Bahtera Jaya - Jakarta, tahun 1987. Hak cipta yang dilindungi undang-undang pada : Pengarang.

Sumber gambar ilustrasi : pergament-trommelfell.de, finedictionary.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar