Rabu, 17 Juni 2015

SOCCERIOR : Ulasan Mendalam; Menjadikan Bursa Transfer Sebagai Tambang Penghasilan


Sejak 2004, Porto mengeruk keuntungan sebesar Rp 8,5 triliun dari penjualan pemain. Ada juga yang meraup sukses serupa dengan mengandalkan pembinaan di akademi.
________________________________________________________________________________________________

RESMI : Danilo da Silva akan memperkuat Real Madrid, musim depan.(iberita.com)

Danilo Luiz da Silva adalah contoh terkini kesuksesan FC Porto menjadikan transfer pemain sebagai tambang penghasilan. Klub elite Portugal itu baru saja sukses menjual bek 23 tahun tersebut ke Real Madrid seharga Rp 538,8 miliar.
Padahal saat mendatangkannya dari Santos 4 tahun silam, Porto hanya perlu membayar tak sampai separo dari yang dikeluarkan Real Madrid saat ini. Persisnya 11,44 juta pounds atau Rp 222,3 miliar.
Dihitung sejak menjual Paulo Ferreira ke Chelsea pada 2004, ada 28 bintang yang dilepas Porto. Termasuk transaksi penjualan Radamel Falcao ke Atletico Madrid pada 2011 yang mencatat sebagai salah satu transfer termahal.

Mengutip Daily Mail, keuntungan Porto dalam kurun waktu tersebut, jika dirupiahkan, mencapai kisaran Rp 8,5 triliun. Hebatnya, meski dikenal sebagai selling club, prestasi Porto relatif stabil.
Porto dan klub Ligue 1 Prancis, Lyon, barangkali yang terdepan dalam menjalankan taktik buy low, sell high (beli dengan harga murah, jual dengan harga "wah"). Untuk itu, dibutuhkan jaringan pemandu bakat yang kuat dan terstruktur.
Cara lain untuk menjadikan bursa transfer pemain sebagai tambang penghasilan tentu saja memperkuat akademi. Southampton dan Lille bisa menjadi contoh. Sebelumnya, ada pula Ajax Amsterdam.

Menurut Presiden Porto Pinto da Costa, semua elemen klub tahu filosofi Porto. Karena itu, pelatih Julen Lopetegui, misalnya, tidak akan pernah memprotes penjualan Danilo sekalipun dia adalah pilar lini pertahanan tim asuhannya.
"Pelatih sudah mengetahui strategi pemasaran kami. Ini yang membuat kami terus bekerja keras untuk memoles pemain muda menjadi sosok sempurna dan berharga mahal," tutur Da Costa.

Untuk mendapatkan bakat-bakat potensial, Porto menyebar pemandu bakat, mulai di Portugal sendiri sampai ke Amerika Latin. Untuk usia, mereka mematok maksimal 24 tahun sebagai investasi ke depan.
Direktur Pemandu Bakat Porto, Antonio Henrique menuturkan, pihaknya mempunyai 250 pemandu bakat di seluruh dunia.

Menyebrang ke Brasil, Santos dan Sao Paulo dikenal sebagai klub yang kerap mengantongi keuntungan besar lewat penjualan pemain yang mereka bina sendiri. Neymar merupakan contoh yang paling gampang diingat dari Santos, yang dijual seharga Rp 1,42 triliun ke Barcelona.
Di Brasil, ada pula Desportivo Brasil, klub yang mengkhususkan diri pada pembinaan dengan tujuan untuk dijual. Otomatis gelar liga bukan prioritas.

Klub produsen pemain berbakat juga bisa ditemukan di Afrika. ASEC Mimosficom merupakan penghasil sederet talenta yang kemudian meroket prestasinya setelah bertualang ke Eropa. Misalnya, gelandang Manchester City, Yaya Toure dan kakaknya yang merumput di Liverpool, Kolo Toure.




AKEDEMI HEBAT, PROFIT BERLIPAT.



Oxlade-Chamberlain dan Luke Shaw berduel kala Southampton vs Arsenal musim lalu. Keduanya merupakan pemain produk asli didikan akademi Southampton.(dailymail.co.uk)

Southampton memang belum seperkasa Manchester United, Chelsea, atau Liverpool dalam menjaring dana dari sponsor. Tetapi, untuk urusan mengeruk uang melalui penjualan pemain, klub berjuluk The Saints itu melampaui nama-nama besar dari Premier League Inggris tersebut.
Kesuksesan dalam bursa transfer itu disebabkan klub dari pantai selatan Inggris itu punya "pabrik" pemain yang produktif. Sejak sewindu, akademi Soton-sebutan lain dari Southampton- tidak pernah berhenti melahirkan bakat yang kemudian laris diminati klub lain.

Mulai Gareth Bale, Theo Walcott, Alex Oxlade-Chamberlain, hingga Adam Lallana, Luke Shaw, dan Calum Chambers. Mantan kapten tim nasional Inggris, Alan Shearer dan si "penyulap", Matthew Le Tissier, juga merupakan hasil binaan klub yang dulunya adalah klub gereja itu.

Sebagaimana diketahui, Lallana akhirnya dilepas Soton ke Liverpool, Shaw bergabung dengan Manchester United, dan Chambers berkostum Arsenal.
Shaw-lah yang termahal, 37,5 juta pounds atau senilai Rp 641,4 miliar. Disusul Lallana, Rp 530,2 miliar, dan Chambers yang berharga Rp 393,2 miliar.

Berkat penjualan 3 pemain di awal musim ini tersebut, profit Soton langsung melonjak. Jadilah Soton klub yang terbanyak mendapat profit dari penjualan pemain dari hasil akademi sendiri selama 3 musim terakhir berdasar survei CIES yang dirilis bulan lalu (Maret, red).
Terhitung sejak Juli 2012 alias bursa transfer musim panas 2012-2013, keuntungan Soton mencapai Rp 1,2 triliun. Hanya klub Ligue 1 Prancis, Lille yang mendekati perolehan Soton.
Di posisi sepuluh besar hasil survei CIES itu, tidak ada satu pun klub Premier League lain di luar Soton. Manchester United yang sejak dekade 1990-an kerap melahirkan bintang binaan sendiri pun masih tercecer di peringkat ke-13 dengan profit Rp 557,8 miliar. Malah Swansea yang lebih baik dengan profit Rp 614,2 miliar.

"Southampton merupakan contoh yang luar biasa bagaimana akademi pemain muda bisa menjadi kunci keunggulan yang kompetitif. Baik secara aspek sporting ataupun ekonomis. Bahkan untuk bisa bersaing di liga yang disebut terkaya sekalipun," sebut salah satu ahli di CIES sebagaimana dikutip dari Telegraph.


Daftar 5 Klub dengan Profit Tertinggi dari Penjualan Produk Akademi Pemain*

1. Southampton; Profit : Rp 1,2 triliun. Dengan 3 penjualan termahal klub:
- Luke Shaw (Rp 641,4 miliar) ke Manchester United.
- Adam Lallana (Rp 530,2 miliar) ke Liverpool.
- Dejan Lovren** (Rp 432,6 miliar) ke Liverpool.

2. Lille; Profit : Rp 1,07 triliun. Dengan 3 penjualan termahal klub:
- Eden Hazard (Rp 684,2 miliar) ke Chelsea.
- Lucas Digne (Rp 256,5 miliar) ke PSG.
- Florian Thauvin (Rp 250,5 miliar) ke Olympique Marseille.

3. Real Sociedad; Profit : Rp 882,8 miliar. 3 penjualan termahal:
- Asier Illaramendi (Rp 513,1 miliar) ke Real Madrid.
- Antoine Griezmann (Rp 513,1 miliar) ke Atletico Madrid.
- Claudio Bravo** (Rp 205,5 miliar) ke Barcelona.

4. Sevilla; Profit : Rp 730,9 miliar. 3 penjualan termahal klub:
- Alvaro Negredo (Rp 427,6 miliar) ke Manchester City.
- Jesus Navas (Rp 342,1 miliar) ke Manchester City.
- Geoffrey Kondogbia (Rp 342,1 miliar) ke AS Monaco.

5. Borussia Dortmund; Profit : Rp 617,4 miliar. 3 penjualan termahal:
- Mario Goetze (Rp 632,8 miliar) ke Bayern Muenchen.
- Shinji Kagawa** (Rp273,6 miliar) ke Manchester United.
- Lucas Barrios** (Rp 145,3 miliar) ke Guangzhou Evergrande.

ket : *Survei 3 musim sejak 2012   **Bukan produk binaan akademi


DIBELI MURAH, DIJUAL DENGAN HARGA WAH...

Klub-klub Premier League terbukti paling jago jika berurusan dengan mengeruk keuntungan dari sisi penjualan pemain.

Berikut grafisnya:









SUMBER : Jawa Pos, 5 April 2015