Jumat, 09 Oktober 2015

CINEMOVIES: Rilis Film Muhammad: The Messenger of God; Yakin Laris meski Banyak Protes...

RATING: 8,7 (IMDB).


(en.wikipedia.org)

Delapan belas tahun setelah menghasilkan film apik Children of Heaven, sutradara Iran Majid Majidi kembali dengan karya fenomenal. Dia membuat film tentang Muhammad yang menjadi film termahal sepanjang sejarah Iran.
__________________________________________________________________________________________________________

Majid Majidi bersama kru di lokasi syuting film Muhammad: The Messenger of God.(theguardian.com)

Film Muhammad: The Messenger of God ini menelan bujet yang fantastis. Film dengan biaya produksi mencapai USD 40 juta atau setara Rp 563 miliar tersebut adalah film paling mahal yang pernah ada di Iran. Film berdurasi 178 menit itu bakal dibuat tiga seri.

Menurut sumber AFP, film tentang Muhammad tersebut mengalami gangguan pada audio pada saat premiere Kamis, 27 Agustus lalu. Namun, penundaan itu tidak mengurangi animo penonton. "Langsung ludes pada hari perdana di seluruh bioskop," lanjut sumber tersebut.
Tiket film itu laris di 143 bioskop di Iran dan mendapat respons positif ketika diputar sebagai pembuka Festival Film Montreal, pada hari yang sama.

Sebagaimana prediksi tim riset Al Azhar pada 2012, seri pertama dari trilogi Muhammad tersebut menuai protes. Ancaman boikot pun muncul dari muslim Sunni Iran. Penggambaran dalam bentuk dan media apa pun dianggap perbuatan yang mencemari nama baik nabi. Namun, produser sekaligu analis film bertema religi Mark Joseph, menjelaskan, masalah penggambaran nabi dan Tuhan tidak hanya dialami kaum muslim.
"Sudah banyak film seputar Yesus. Mulai King of Kings (1961), Jesus of Nazareth, hingga The Passion. Semuanya menggambarkan Yesus dalam satu sosok yang gamblang," ungkap Joseph kepada Guardians. Dia menyatakan, film Muhammad merupakan "proyek percontohan". Tentu saja, banyak perlawanan dari masyarakat.

Meski telah premiere dan laris, film Muhammad dapat tanggapan miring dari pemerhati film Iran. "Kami tidak menayangkannya di Festival Film Iran demi menjaga nama baik nabi dan agama," tegas seorang kritikus film Iran pada AFP.
Tehun lalu, skrining Muhammad di Festival Film Fajr, Teheran, juga digagalkan karena tidak mendapat izin dari Imam Besar Iran Ali Khamenei. Dalam film tersebut, sosok nabi terakhir dalam Islam itu digambarkan begitu minim visualnya. Hanya tangan dan kaki saat Muhammad bayi serta bagian belakang kepala yang menggambarkan Muhammad remaja. 
"Sama sekali tidak menunjukkan wajah," tutur Majid Majidi dalam konferensi pers film di Festival Film Montreal.
"Makin banyak film bertema nabi akan lebih baik. Kisah hidup dan pelajaran agama akan lebih banyak diterima, sehingga tidak ada penyudutan agama tertentu," tambah Majid.

Dalam penggarapan film pertama dari trilogi Muhammad tersebut, tim melakukan riset selama 4 tahun. Meliputi kajian hadis, literatur yang digarap secara verbatim (per kata), hingga sumber biografi kontemporer. Seluruh studi tersebut dilakukan dari sudut pandang Islam Syiah dan Sunni dari lima negara. Yakni, Lebanon, Aljazair, Iran, Iraq, dan Maroko. Total, butuh waktu 7 tahun untuk menggarap film yang dibintangi bintang-bintang ternama Iran itu.

Dibanding dengan figur sentral agama lain, Muhammad merupakan tokoh yang jarang difilmkan. Hingga kini, hanya ada dua film -The Message (1976) dan Muhammad- buatan Majid ini. Sementara itu, ada sekitar 200 film tentang Yesus, 100 diantaranya juga menampilkan sosok Nabi Musa As. Selain itu, ada sekitar 42 film tentang Buddha.

Biaya produksi yang amat tinggi tersebut diperkirakan mampu balik modal. Majid mengklaim banyak negara yang berniat membeli dan tertarik pada film tersebut. Antaranya, Turki, Indonesia, dan Malaysia.

Film tersebut digarap amat serius. Tim produksi bahkan merekrut Barrie Osborne, produser Lord of The Rings, dalam jajaran dewan pertimbangan.
Selain Osborne, ada nama-nama beken pemenang Oscar yang terlibat. Yakni, Vittorio Storaro, sinematografer Italia yang memenangkan tiga piala Oscar. Sementara score film film digarap A.R Rahman, pemenang dua Oscar dengan karya fenomenalnya, Slumdog Millionaire.

Majid menegaskan bahwa proses penggarapan amat open minded. "Film ini bukan khotbah agama. Kami membuat film yang edukatif dan menarik," paparnya. Melalui film ini pula, dirinya berharap Islam tidak lagi dipandang miring oleh warga dunia, terutama penduduk Barat.


Siap Tanggung Jawab.

Majid Majidi berdiri didepan poster film Muhammad karyanya.(presstv.com)

Menggarap film tentang Nabi Muhammad tidak mudah. Rumitnya proyek tersebut terlihat sejak proses pembuatan. Sutradara Majid Majidi membutuhkan waktu hingga 7 tahun. Untuk syutingnya, sebagian besar lokasinya berada di Iran. Majid pun membangun setting yang bisa menggambarkan Makkah pada abad ke-6 secara detail.
Sejumlah persoalan kultur dan sosial juga membayangi. Contohnya, adegan ketika Raja Abrahah hendak menyerang kota Makkah dengan pasukan Gajah. Rencananya, syuting serangan tersebut dilakukan di India. Namun, itu dibatalkan karena perkembangan sosial-religi di negara tersebut.

Meski demikian, film itu sudah jadi. Majid berusaha sebaik mungkin menggambarkan kehidupan orang paling mulia dalam Islam tersebut. Dia pun mengaku siap menghadapi kontroversi yang mungkin timbul.
"Mungkin dua versi terakhir dari trilogi film ini yang semakin banyak diperdebatkan," katanya.

Sebab, dalam seri pertama, Muhammad masih belum diangkat menjadi Rasul. Tetapi, seri kedua dan ketiga lah yang diperkirakan Majid bisa memancing polemik yang besar. "Begitu diangkat menjadi Rasul, bahkan dialog singkat saja bisa dipolemikkan," ucapnya.

Meski demikian, dia menyatakan bahwa dialog-dialog dan semua adegan yang diambil dapat dipertanggungjawabkan. "Mungkin muncul protes dari Arab Saudi. Tapi, sejumlah negara-negara Islam seperti Turki, Indonesia, dan Malaysia sudah menunggu-nunggu film ini," tuturnya.

Dia menjelaskan, dirinya membuat film tersebut tidak mewakili satu aliran mana pun dalam Islam. Dia hanya berusaha memberikan gambaran obyektif mengenai kehidupan Rasul dan Islam.

DATA FILM:

Sutradara: Majid Majidi.
Produser: Muhammad Mehdi Heidarian, Parvaneh Partow, Alireza Rezadad.
Penulis cerita: Majid Majidi.
Musik: A.R Rahman.
Sinematografi: Vittorio Storaro.
Pemain: Mahdi Pakdel, Sareh Bayet, Mina Sadati, Ali Reza Shoja-Nuri, Mohsen Tanabandeh.
Rilis: 29 Agustus 2015 (Iran).
Bujet: 623,3 miliar Rial.
Produksi: Nourtaban Film Industry.
Durasi: 178 menit.


TRAILER-NYA:



TAHUKAH KAMU?


- Film ini menghabiskan biaya produksi USD 40 juta atau setara Rp 563 miliar, menjadikannya film Iran termahal.

- Akan dibuat trilogi. Film pertama menceritakan Muhammad dari lahir hingga usia 13 tahun. Film kedua tentang perjalanan dari usia belasan hingga 40 tahun. Sekuel terakhir berkisah setelah usia 40 tahun ketika diangkat menjadi Rasulullah.

- Untuk menghormati Muhammad dan menghindari pengidolaan berlebihan pada tokoh yang memerankan, sepanjang film wajah Muhammad tidak dimunculkan.



SUMBER: Jawa Pos, 30 Agustus 2015.