Rabu, 28 Oktober 2015

SOCCERIOR: Metode Monchi di Balik Kisah Sukses Sevilla...

Sevilla memang tidak seglamor dan sekaya Barcelona, Real Madrid atau Atletico Madrid. Namun, mereka adalah pabrik pemain berbakat dan prestasinya juga patut dibanggakan. Apa rahasianya?
___________________________________________________________________________________________________________________________________

Kerja Cerdas: Monchi sukses sebagai direktur teknik di klub Sevilla.(publico.es)

Carlos Bacca masih belum percaya akan perubahan nasibnya. Sembilan tahun silam, selain bermain untuk klub Barranquila FC, salah satu klub di utara Kolombia, Bacca bekerja serabutan menjadi kondektur bus di jalanan kota Barranquila.
Itu merupakan kisah masa lalu. Setelah bermain di liga antah-berantah, pada musim panas ini, hidup Bacca berputar 180 derajat. Sebagai penyerang utama salah satu klub raksasa Italia AC Milan, Bacca menikmati kehidupan yang jauh lebih baik di kota mode Italia tersebut.

Rossoneri-julukan Milan- kesengsem performa Bacca selama dua musim belakangan. Mereka pun merogoh kocek 30 juta euro atau sekira Rp 458 miliar untuk mendapatkan jasa pemain yang mencetak 34 gol buat Sevilla tersebut.
Dan tahukah Anda berapa rupiah yang dikeluarkan Sevilla untuk mendapatkan Bacca dari Club Brugge, klub terdahulu Bacca? Hanya 7 juta euro (Rp 107 miliar) pada musim panas 2013. Sevilla untung tiga kali lipat dari hasil penjualan Bacca ke Milan.
Itu baru satu kisah penjualan pemain yang sukses oleh Sevilla. Masih ada nama Alvaro Negerdo, Jesus Navas, Geoffrey Kondogbia, Gary Medel, dan Luis Alberto yang dijual pada 2013 dengan harga total 60 juta pounds (Rp 1,24 triliun).
Nah, cerita Sevilla yang selalu sukses menjual pemain-pemain itu diotaki oleh Ramon Rodriguez Verdejo. Pria plontos tersebut mengabdi kepada Sevilla sejak 15 tahun silam. Pria yang akrab disapa Monchi itu membuat tren baru di dunia olahraga.
Bukan hanya sukses finansial yang diberikan Monchi kepada klub asal selatan Spanyol itu. Sejak tahun 2000, Monchi yang menjadi direktur teknik menghadirkan juara Copa del Rey 2007 dan 2010. Lalu, Supercopa Spanyol 2007. Kemudian, Europa League 2006, 2007, 2014, dan 2015. Serta Piala Super Eropa 2006.
Metode Monchi. Demikian kalangan sepak bola menyebut apa yang dilakukan Monchi tersebut. Saking kerennya Metode Monchi, raksasa Spanyol Barcelona pernah menawarinya pindah ke Katalan.
Lalu, seperti apa Metode Monchi itu?
Pada dasarnya, Metode Monchi menggunakan statistik pemain sebagai dasar perekrutan. Pemantauan dilakukan di level klub-klub yang boleh dikatakan antah-berantah.
"Kami pergi dan mencari pemain di tempat yang kami tahu tim-tim besar tidak akan mendatangi mereka. Klub-klub besar berpikir, mereka tidak akan menemukan pemain bagus di tempat yang kami datangi," tutur Monchi dikutip oleh AP.
Metode Monchi itu disetarakan dengan apa yang dilakukan Billy Beane di dunia bisbol. Beane membangun tim Oakland Athletics berdasar statistik pemain-pemain yang luput dari pemantauan tim lain. Kisahnya ditulis dan difilmkan dengan judul Moneyball.
Metode Monchi itu menggunakan jejaring pemandu bakat yang tersebar di Asia, Afrika, Amerika Latin, dan negara-negara yang mungkin oleh pemandu bakat klub-klub besar tidak dijamah.
Penjaringan pemain melalui Metode Monchi itu berjalan satu tahun.Selama Agustus, Monchi yang punya sekitar 15 jaringan pemandu bakat mulai menjalin komunikasi. Misalnya, di liga negara mana saja yang mereka pantau.
Kemudian, pada Desember, Monchi sudah punya sekitar 150 pemain dengan posisi masing-masing di klubnya. Monchi dan rekan analisnya memulai memilih pemain secara spesifik dan menonton video pertandingannya.
"Sangat penting buat kita untuk melihat bagaimana setiap pemain bereaksi ketika timnya menang atau kalah. Begitu juga, bagaimana dia bermain ketika melakoni laga kandang atau tandang," tambah Monchi.

Memasuki musim semi atau sekitar Maret, para staf Monchi melakukan finalisasi dan membuat tingkatan dari pemain yang dipantau. Kategortinya, A hingga E. Mereka yang dimasukkan ke daftar A adalah pilihan utama.
Setelah pemain daftar A tersusun, Monchi pun mendatangi klub mereka. Dia segera melakukan pendekatan dan bernegosiasi dengan klub pemain tersebut.
"Sevilla mungkin bukan klub yang punya kekuatan ekonomi sebesar Napoli, Lyon, Fiorentina, atau Hamburg. Tetapi, kami membangun fondasi yang spesial. Dengan begitu, pemain yang datang di Sevilla akan berpikir bahwa suatu saat mereka bisa seperti Ivan Rakitic dan Daniel Alves yang sukses di Barcelona atau Sergio Ramos di Madrid," jelas Monchi.

Presiden Sevilla Jose Maria Del Nido mengatakan, memang klubnya bukan klub mapan secara ekonomi di Spanyol. Karena itu, tidak heran mereka memilih mencari pemain dari antah-berantah untuk diikat menjadi bagian dari klub tersebut.
"Dalam beberapa tahun, lihat apa yang kami hasilkan dengan pemain yang mendengar namanya pun Anda akan mengernyitkan dahi. Kami bermain dan mencapai prestasi dengan cara kami sendiri," tutur Del Nido sebagaimana diberitakan Marca.



 
SUMBER: Jawa Pos, 18 Oktober 2015.