Rabu, 18 November 2015

CINEMOVIES: The Peanuts Movie; Cheer Up, Charlie!

RATING: 8,1 (IMDB); 8,6 (Rotten Tomatoes).





(theoakleafnews.com)


"All we need is confidence," Charlie Brown.


Setuju! Sosok underdog sekaligus sahabat Snoopy, Charlie Brown, dan geng Peanuts-nya memang selalu bisa memberikan pesan dalam cerita sehari-hari mereka. Sayangnya, komik dan animasi dari tokoh buatan komikus Charles M. Schulz itu vakum 15 tahun sejak kepergian Schulz. But, tahun ini istimewa. Sebab, Snoopy, Lucy, Linus, dan segenap geng Peanuts akhirnya hadir dalam debut film animasi berformat 3D berjudul The Peanuts Movie (2015) yang sangat menyenangkan untuk ditonton.
Disutradarai oleh Steve Martino yang pernah menggarap franchise Ice Age dan Rio (2014), film itu sukses membawa kita bernostalgia. Bisa dibilang, untuk kali pertama, kita bisa melihat Snoopy dan Charlie Brown dalam tampilan paling fresh dan mengikuti zaman. Namun, kemunculan mereka juga tak mengecewakan penggemar tokoh komik strip klasik era 50-an tersebut.
"Cerita organik dari komik strip akan balance saat digabungkan dengan cerita yang ingin ditonton para fans saat ini. Kami tak ingin kehilangan soul dari karya Schulz," ungkap Steve Martino dikutip dari Screen Rant.
Sebagian karakter Peanuts diambil dari karakter pada komik strip berjudul sama yang terbit pada 1950-2000. Kepribadian Charlie Brown, our most valuable underdog, yang selalu sial masih sama dengan yang dulu, yakni minder dan selalu pesimistis. Namun, setidaknya Charlie lebih sering tersenyum di film tersebut.

Cerita bermula pada musim dingin. Kehadiran seorang gadis berambut merah membuat hidup Charlie (Noah Schnapp) kalang kabut. Charlie jatuh cinta kepadanya. Charlie yang semula menjalani kehidupan yang monoton rela melakukan apa pun untuk menarik perhatian gadis tersebut. Tak heran, setelah itu, Charlie dan berbagai prestasinya pun menjadi buah bibir di sekolah. Namun, apakah si gadis turut kagum dengan Charlie? Bagaimana pertarungan Snoopy (Bill Melendez) melawan Red Baron dalam dunia fantasinya?

"Kami menjaga orisinalitas cerita The Peanuts. Orisinalitas inilah yang ingin disaksikan penggemar The Peanuts," ujar Paul Feig, sang produser. Ejekan candaan yang agak kasar pada versi klasik komik strip The Peanuts seperti "stupid" atau "blockheads" sudah ditinggalkan untuk menyesuaikan sasaran film tersebut yang diperuntukkan bagi anak-anak. Kali ini kisah geng Peanuts membawa banyak pesan positif ketimbang menunjukkan masalah para tokohnya. Dengan plot yang sederhana, The Peanuts Movie mengajari anak-anak untuk selalu percaya diri dan optimistis mesk dihadang berbagai kekurangan, baik dari dalam diri maupun hambatan eksternal.
Di sisi lain, salah satu tantangan dalam proses pasca-produksi film tersebut adalah strategi promosi. Yakni, menarik anak-anak dan remaja yang tak dibesarkan cerita The Peanuts untuk menonton film tersebut.

The Peanuts Movie akan tayang di Indonesia pada Desember 2015.


BUAT SEMIRIP MUNGKIN DENGAN VERSI KOMIK.

Nonton The Peanuts Movie (2015) itu seperti bernostalgia.
Karakter Charlie Brown dan Snoopy tetap sama. Namun, visualisasi 3D yang apik makin membuat dua karakter tersebut asyik ditonton. Rumah studio film tersebut, Blue Sky Studios, juga menampilkan adegan dengan sentuhan CGI dan tone warna soft. Karena itu, The Peanuts Movie cocok dengan selera pasar anak dan remaja saat ini. Namun, apakah menjadikannya 3D adalah pilihan yang tepat?
"Ya. Memakai animasi bikinan komputer adalah kesempatan untuk memperkaya visualisasi dari dunia Charlie dan Snoopy ini. Hasilnya akan lebih imajinatif," ungkap sutradara Steve Martino dilansir dari Screen Rant.

Bagi dia, menghadirkan lagi kartun legendaris era 50-an tersebut tentu tak akan menarik perhatian generasi saat ini. Namun, bila filmnya berbentuk 3D, para pecinta tokoh Snoopy tak merasakan ciri khas komik The Peanuts. "Kami selalu kembali ke komik. Kami buat semua pose dan ekspresi tokoh berdasar gambar yang dibuat Charles Schulz," jelas Mike Travers, produser dan ahli animasi VFX The Peanuts Movie.

Meski seri Peanuts pernah dibuat dalam animasi 3D di video game Snoopy Flying Ace pada 2009, divisi animasi tetap melakukan riset dari cerita dan gambar komik strip Peanuts pada era 50-an. Mereka menemukan pola gambar yang dihadirkan Charles Schulz.
Aspek terpenting adalah ekspresi tokoh untuk memperlihatkan gambar Snoopy yang masih mengutamakan gambar 2D.


MEET THE GENG!!!


SNOOPY.

Kepribadian: Extrovert.

Snoopy, anjing sahabat Charlie, punya karakter yang sangat kontras dengan Charlie. Snoopy bagai "Doraemon", dan Charlie adalah "Nobita".(gbr: peanutsmovie.com)













CHARLIE BROWN.

Kepribadian: Neuroticism.

Charlie memiliki masalah dalam mengontrol stabilitas emosinya. Dia pesimistis, rendah diri.(gbr: peanutsmovie.com)














LUCY.

Kepribadian: (Dis)agreeableness.

Lucy kerap menjengkelkan karena bertingkah seperti bos di antara teman-temannya. Lucy kerap pula menyampaikan saran yang menyesatkan dengan penyampaian yang galak.(gbr: peanutsmovie.com)












LINUS.

Kepribadian: Openness to experience.

Linus dapat dikatakan memiliki pribadi yang paling sempurna dalam geng The Peanuts. Dia cerdas.(gbr: peanutsmovie.com)















DATA FILM:


Sutradara: Steve Martino.
Produser: Paul Feig, Bryan Schulz, Craig Schulz.
Penulis: Bryan Schulz, Craig Schulz.
Pengisi Suara: Noah Schnapp, Hadley Belie Miller, Noah Johnston, Anastasia Bredikhina, Alexander Garfin, Bill Melendez.
Musik: Christophe Beck.
Sinematografi: Reanto Falcao.
Art director: Nash Dunnigan.
Editor: Randy Trager.
Produksi: Blue Sky Studios.
Distributor: 20th Century Fox.
Durasi: 102 menit.
Rilis: 6 Desember 2015 (UK).


TRAILER-NYA:






SUMBER: Jawa Pos, 13 November 2015.