Jumat, 14 Agustus 2015

CINEMOVIES : [Ulasan] Dari Kegagalan Reboot Fantastic Four...


 
SUTRADARA TERLALU PERCAYA DIRI.


Panen Kritik : Josh Trank, sutradara reboot Fantastic Four, yakin bahwa film buatannya itu merupakan adaptasi yang keren dari sebuah komik.(sumber foto: screenrant.com)


LOS ANGELES - Hasil reboot film superhero Fantastic Four memang jauh dari harapan. Di sejumlah situs penilai film, rating film yang haknya sudah dibeli studio 20th Century Fox itu hanya mengumpulkan poin yang membuat miris. Situs IMDB memberi nilai 3,9 dari 10, Metacritic mengganjar 27 persen, dan yang paling menyedihkan Rotten Tomatoes hanya memberi skor 9 persen.
Di mata kritikus, film yang dirilis di AS pada 7 Agustus lalu itu lebih buruk daripada Batman & Robin pada 1997 lalu. Para fans pun bersedih. Mereka berharap film yang diadaptsi dari komik Marvel tersebut digarap Marvel saja. Ribuan orang menandatangani petisi online dalam situs charge.org untuk meminta perubahan itu.

Situs The Hollywood Reporter melakukan peliputan yang mengarah pada sutradara Josh Trank sebagai sosok di balik kegagalan film itu. Sehari sebelum Fantastic Four diputar, Trank mengirimkan e-mail ke beberapa pemain dan kru. Trank berucap betapa bangganya dia terhadap garapannya tersebut "99 persen lebih bagus jika dibandingkan dengan adaptasi komik mana pun". Namun, tak semua sepakat. salah seorang pemain mengatakan, "saya tidak setuju dengan pendapatmu."
Mungkin jika Trank tidak banyak omong, para pelaku industri film Hollywood serta moviegoers hanya akan menebak-nebak siapa dalang di balik kegagalan Fantastic Four dalam merebut hati pasar. Film dengan bujet USD 122 juta (sekitar Rp 1,6 triliun) itu hanya meraup pemasukan USD 25,7 juta (Rp 350 miliar) di AS dan USD 34 juta (Rp 460 miliar) diseluruh dunia. Jumlah tersebut begitu jauh di bawah prediksi, bahkan dari perkiraan pemasukan terendah sekalipun.

Pada hari pemutaran perdana film itu, Trank, 31, tak mampu menahan diri untuk nge-tweet. Dia menyatakan sudah membuat sebuah versi fantastis film Fantastic Four. Dia menambahkan, penonton mungkin belum pernah melihat yang seperti itu.

Tulisan cuitan Josh Trank, dihari pemutaran film Fantastic Four.(twitter.com)

Trank memang buru-buru menghapus cuitan itu. Namun, hal tersebut menjdai petunjuk kunci alasan dia dilengserkan dari kursi sutradara Star Wars pada akhir April lalu.
Eksekutif studio 20th Century Fox rupanya ,elihat Trank memiliki sikap tak jelas dan cenderung aneh. Fantastic Four maupun Star Wars memang berada di bawah produksi Fox. Mereka memilih tidak menambah kerja sama lagi dengan Trank. Ditulis The Hollywood Reporter, Trank tidak tinggal diam atas pemutusan kontrak kerja Star Wars itu. Dia pun menyewa pengacara Marty Singer.

Fantastic Four bukan satu-satunya film dari studio besar yang hasilnya melenceng dari target karena kinerja sutradaranya. Menghadapi kondisi serupa, beberapa studio memilih mengambil langkah cepat. Misalnya, Paramount, langsung menghentikan sementara syuting World War Z begitu para kru mengajukan komplain atas kinerja sutradara Marc Forster. Para petinggi Paramount meminta Forster mengulang lagi sejumlah adegan. Meski biaya produksi membengkak, menjadi USD 190 juta (Rp 2,7 triliun), tapi hasilnya lumayan. Film yang dibintangi Brad Pitt itu meraih pendapatan kotor USD 540 juta (Rp 7,4 triliun) dari seluruh dunia.

Pada kasus Trank, sejumlah sumber mengatakan, sutradara tidak membuat materi yang bisa menjadi jalan film itu diselamatkan. Trank disebut-sebut juga menolak segala bantuan. "Dia seperti bersembunyi di tenda dan memutus hubungan dengan semua orang," kata seorang sumber internal Fox.
Awalnya, Trank dianggap mampu mengantarkan reboot film itu terasa lebih membumi. Trank katanya meminta para pemain utama Miles Teller, Michael B. Jordan, Kate Mara, dan Jamie Bell untuk memberikan akting dengan kesan suram. "Selama syuting, dia meminta pemain untuk memberikan tampilan sedatar yang mereka bisa," ujar salah seorang petinggi Fox.
Seorang kru mengatakan, Trank memang mengambil andil besar pada kegagalan Fantastic Four. Namun, Fox juga tidak boleh lantas meninggalkan masalah tersebut. "Film ini gagal dipahami, dibuat untuk alasan yang salah, dan tidak ada visi di balik penggunaan properti," kata kru itu. Fox memilih Trank karena dianggap sebagai seorang sukses di balik pendapatan kotor USD 127 juta (Rp 1,7 triliun) dari film berbujet rendah Chronicle yang hanya membutuhkan dana USD 12 juta (Rp 165 miliar) dalam penggarapannya. Fox punya mimpi Trank menjadi sutradara yang sekelas J.J Abrams, sutradara Star Wars.

Sejatinya, eksekutif Fox, mengetahui ada yang tidak beres dalam kinerja Trank di Fantastic Four itu. Namun, saat ada kesadaran bahwa masalah tersebut tidak bisa didiamkan begitu saja, momennya sudah terlambat. "Bagaimana meminta orang lain mengerjakan film yang separonya sudah dikerjakan?," ujar sumber itu.



SUMBER : Jawa Pos, 14 Agustus 2015.