Sabtu, 29 Agustus 2015

SOCCERIOR: Ketika Game Football Manager (FM) Jadi Rujukan Profesional...


Penggila game strategi sepak bola pada umumnya pernah memainkan Fooball Manager (FM). Ternyata, game itu digunakan oleh para profesional untuk menganalisis pemain di dunia nyata.
_______________________________________________________________________________________________


Tidak Konyol: Pembawa acara Sky Sports Adam Leventhal ketika menganalisis pemain menggunakan data game Football Manager.(skysports.com)

Sejak masih bernama Championship Manager (CM) pada 1992, game strategi sepak bola buatan Eidos Interactive itu sudah menyita perhatian. Selain membuat para pemainnya merasa seolah-olah menjadi manajer atau pelatih sepak bola, database-nya sangat lengkap.

Sekarang game tersebut bernama Football Manager atau yang lebih dikenal sebagai FM. Itu terjadi setelah pecah kongsi antara Eidos dan Sports Interactive. Sepekan belakangan FM bikin heboh karena televisi Sky Sports menyandarkan analisisnya pada data dari game itu.

Ya, Sky Sports memakainya dalam tayangan untuk menganalisis transfer pemain. Dalam acara tersebut, Sky Sports berusaha membandingkan performa James Milner dan Lucas Leiva. Bukannya memakai data dari penyedia statistik reguler, mereka malah memakai FM.
Di layar belakang pembawa acara Adam Leventhal, tampak sebuah statistik penilaian kemampuan Leiva dan Milner. Dia lalu membandingkan dua pemain itu dan memberikan analisis kebutuhan Liverpool di lini tengah. Manurut dia, dengan hadirnya Milner, Leiva bisa angkat kaki dari Anfield, markas Liverpool.
"Dengan kemampuan bertahan yang dimiliki Leiva, akan sulit bagi Liverpool melepasnya," terang Leventhal.
"Masalahnya, Milner memiliki 14 poin untuk versatilitas, sementara Leiva hanya 12," lanjutnya.

Tampak aneh memang. Sebab, data dari game justru digunakan sebagai dasar analisis. Tapi, mereka yang terbiasa bermain FM akan menyadari bahwa data yang ada tidak bisa dianggap remeh.
Sports Interactive tak main-main dalam menyiapkan database pemain. Dengan kekuatan 1.300 pemandu bakat, mereka berhasil menganalisis lebih dari 600.000 pesepak bola dan staf pelatih. Hebatnya lagi, terdapat 250 atribut yang dimiliki tiap-tiap pemain, mulai kemampuan umpan hingga mental pemain. Lalu, bagaimana cara kerja mereka?

Di tribun penonton, mata Dean Gripton nyalang memerhatikan laga Nottingham Forest U-21 kontra Millwall U-21. Kepala peneliti Sports Interactive itu hampir-hampir tak berkedip ketika tahu bahwa ada pemain baru di skuad Millwall. Melalui catatan kecil yang dibawa, dia membuat coret-coretan penting.
Seusai pertandingan, Gripton berdiskusi dengan seorang pria yang merupakan staf peneliti khusus untuk Millwall. Dia menanyakan performa pemain baru tersebut dan performa pemain di debutnya Tak lupa juga kelebihan dan kekurangan pemain yang bersangkutan.

"Ini merupakan rutinitas kami, berdebat panjang tentang data dan berdiskusi tentang seorang pemain," ujar Gripton. "Kami harus memastikan memiliki semua data yang ada sebelum menentukan rating pemain yang bersangkutan dalam game," terangnya.
Dia menjelaskan, untuk menentukan rating striker Arsenal Theo Walcott, pada mulanya pihaknya memberikan poin maksimal 20. "Kemudian, kami menggunakan perbandingan dengan rekannya di Arsenal. Itu dilakukan untuk memastikan tepatkah penilaian yang kami berikan," imbuhnya.

Pada 2008, Everton FC meneken kerja sama dengan Sports Interactive. Melalui kerja sama itu, Everton berhak melihat data mentah tim scouting FM. Tujuannya apa lagi kalau bukan mengetahui pemain berbakat yang bakal bersinar. Terdengar gila memang, tetapi FM telah membuktikan reputasi sebagai "peramal" dalam sepak bola.
Cristiano Ronaldo, Wayne Rooney, Cesc Fabregas, dan Gael Clichy merupakan pemain-pemain yang dulu dilabeli wonderkid, calon, bintang sepak bola, oleh FM. Hasilnya? Sekarang mereka benar-benar membuat geger dunia sepak bola dengan performa masing-masing.

Nah, waktu itu The Toffees-julukan Everton- tak ingin kecolongan dalam memiliki pemain-pemain berbakat. Manajer Everton kala itu, David Moyes, dikabarkan menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari hasil scouting dari FM.
Masih tak percaya? Tanyakan hal itu pada Ole Gunnar Solskjaer. Pelatih yang semasa aktif bermain berjuluk "Babyface Killer" itu akan memberikan anggukan kepala. Banyak yang menduga Solskjaer mendapatkan metode kepelatihannya dari Sir Alex Ferguson. Tapi, anggapan itu salah besar.

"Aku belajar banyak melalui FM tentang sepak bola. Game itu benar-benar mirip kehidupan. Mereka telah melakukan penelitian yang hebat untuk memprediksi siapa yang bakal menjadi pemain hebat," terang Solskjaer.

Hasilnya, Solskjaer sukses menorehkan sejarah di Liga Norwegia. Dia mematahkan adagium bahwa Liga Norwegia hanya ada satu juara, Rosenborg. Pemilik 67 caps dan 23 gol bagi timnas Norwegia itu justru membawa tim yang dilatihnya, Molde FK, menjadi juara beruntun pada 2011 dan 2012.
"Saat melatih, pikiranku sama dengan saat bermain. Terutama terkait pemain muda. Adalah suatu hal yang menyenangkan melihat mereka berkembang," terangnya.

Solskjaer memang berhasil menorehkan sejarah di Liga Norwegia. Tapi, karir kepelatihannya berubah menjadi neraka di Inggris, ketika melatih Cardiff City. Padahal kompetisi di Inggris adalah favorit Solskjaer di FM.

Jadi, jika Anda pernah menjuarai Premier League di FM, jangan berpikir Anda mampu menangani klub sepak bola sungguhan, apalagi di Premier League.



SUMBER : Jawa Pos, 24 Agustus 2015.