Selasa, 01 September 2015

HUMANIS: Ironi Pembangunan Kampung Atlet Olimpiade 2016 Brasil.


Setahun lagi Olimpiade 2016 dilaksanakan di Rio de Janeiro. Banyak berita miring yang mengiringi. Kini, selain pembangunan fasilitas yang lamban, tersiar kabar ada pekerja yang diperlakukan layaknya budak.
___________________________________________________________________________________________________

Kontroversial: Tampak dari udara, proyek pembangunan Kampung Atlet Olimpiade 2016.(gettyimages.co.uk)

Rio de Janeiro selalu tampak indah ketika dilihat dari udara. Dari puncak Corcovado, terlihat patung Kristus Penebus Dosa membentangkan tangan dengan tatapan mata ke arah kota terbesar kedua di Brasil tersebut.
Namun, di suatu tempat bernama Barra da Tijuca, rasa kemanusiaan itu dipermainkan. Dalam sebuah inspeksi awal bulan Agustus ini, Departemen Tenaga Kerja Brasil menemukan 11 orang yang membangun Kampung Atlet Olimpiade 2016 hidup mengenaskan. Mirip seperti perbudakan.

Situs resmi kementerian menyebutkan, para tukang bangunan itu dipekerjakan Brasilia Global Services, perusahaan sub-konstruktor yang mengerjakan proyek milik konsorsium Ilha Pura. Kompleks yang dibangun akan menampung para atlet selama berlangsungnya Olimpiade.
"Mereka tinggal dengan sekumpulan kecoa, tikus, dan sampah rumah tangga warga setempat."
"Sebagian tidur di alam terbuka bersama kotoran," ujar jaksa setempat, Valeria Correa, dalam pernyataan publiknya, Jumat (14/8). Perubahan kontrak secara sepihak dan penurunan kualitas hidup para pekerja tersebut berujung pada penghentian pembayaran gaji.

Otoritas setempat mengungkap, sebagian besar para pekerja berasal dari daerah miskin di timur laut Brasil. Perusahaan menjanjikan akan menjamin tempat tinggal dan biaya hidup mereka selama pembangunan berlangsung. Nyatanya, salah seorang pekerja menyatakan kepada penyidik bahwa sekitar 30 orang harus tinggal dan tidur dalam satu rumah kecil di perkampungan kumuh Beira Rio.
Temuan mengejutkan tersebut bakal lebih ironi ketika publik tahu akan menjadi apa kompleks Kampung Atlet itu setelah Olimpiade berakhir. Mantan anggota Komisi Internasional Brasil Alberto Murray membeberkannya. "Semua sarana (Olimpiade) yang dibangun di Rio dilakukan sejalan dengan pengembangan realestat. Kami menganggap Olimpiade bukan semata-mata untuk urusan olahraga, tapi juga kepentingan realestat," paparnya.

Belum Rampung: Foto udara dari salah satu proyek Olimpiade 2016 di Brasil, tanggal 27 Juli lalu. Padahal Olimpiade tinggal menyisakan setahun lagi.(salon.com)

Apabila ditanya, panitia penyelenggara menjelaskan bahwa pembangunan Kampung Atlet tersebut disokong pendanaan murni dari pihak swasta. Artinya, tidak sepeser pun uang rakyat membiayai pendiriannya. Namun, sejumlah deal berbau bisnis dilaporkan melatarbelakangi proyek tersebut. Fasilitas publik itu nantinya dialihfungsikan menjadi kepemilikan pribadi.

Sebuah plang di luar kompleks menandakan bahwa bangunan tersebut dikerjakan oleh Odebrecht, sebuah perusahaan raksasa yang terlibat skandal penyuapan. Perusahaan itu mendapat nilai kontrak yang jauh lebih besar dari wajar saat mengerjakan sejumlah proyek pada Piala Dunia lalu. Padahal, sejumlah stadionnya saat ini disewakan untuk acara pernikahan dan parkiran mobil.
Di dalam kompleks Kampung Atlet tersebut juga dibangun gedung 17 lantai yang disekat menjadi 3.600 apartemen. Setelah urusan Olimpiade usai, apartemen itu akan dijual dengan nama "Pure Island". Satu unitnya dihargai sekitar GBP 500 ribu (sekitar Rp 10 miliar). Bandingkan dengan pendapatan per tahun warga favela (daerah miskin di perkotaan) Vasco da Gama di Rio yang tak sampai GBP 500 (Rp 10 juta).
Di Tijuca pula, kini mulai berdiri venue tenis dan olahraga air (akuatik).



SUMBER : Jawa Pos, 17 Agustus 2015.