Sabtu, 12 Desember 2015

CINEMOVIES: BULAN TERBELAH DI LANGIT AMERIKA; Melawan Islamophobia...


 (gbr: hot.detik.com)


TRAILER-NYA:





Kata "bulan terbelah" pada judul film ini merupakan metafora dari terbelahnya masyarakat dunia menjadi muslim dan non-muslim setelah peristiwa 9/11 yang menewaskan hampir 3.000 orang tersebut. Memang bukan momen yang pas untuk membahasnya, film Bulan Terbelah di Langit Amerika (BTDLA) (2015) dengan apik mengangkat isu global itu dalam sebuah kisah yang seakan rumit, tetapi mudah dipahami.
Sebagai sekuel film 99 Cahaya di Langit Eropa (2014) yang sukses, film tersebut mengadaptasi novel best seller yang berjudul sama karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Jika film Indonesia bertema Islam umumnya berkisah seputar percintaan dan sisi spiritual tokohnya, BTDLA mengusung isu global yang cukup sensitif tentang pandangan masyarakat dunia terhadap Islam.
Rangga yang juga penulis film ingin menyampaikan sudut pandang lain tentang Islam pasca-tragedi 9/11. "Selama ini, kalau mendengar peristiwa 9/11, opini publik sudah terbentuk bahwa kaum muslim sebagai pelaku. Padahal, mereka juga dirugikan," ungkap dia kepada Jawa Pos. Meski banyak film yang bertema serupa seperti yang paling populer My Name is Khan (2010), film tersebut menyuguhkan sudut pandang lain.

Film ini berkisah tentang Hanum (Acha Septriasa), seorang jurnalis yang ditugaskan atasannya untuk menulis artikel kontroversial berjudul Apakah Dunia Lebih Baik tanpa Islam?
Hanum lantas mewawancarai para korban peristiwa 9/11. Pada saat yang bersamaan, suaminya Hanum, sedang menyelesaikan studi S-3 di New York. Mereka pun berusaha memperlihatkan Islam dari perspektif lain pacsa-peristiwa 9/11.
Hanum bertemu dengan satu keluarga muslim korban 9/11. Mereka kehilangan anggota keluarga yang dicap teroris oleh lingkungan sekitarnya. Dari sana Hanum menemukan sisi lain peristiwa 9/11 dan bersikeras mengungkapnya dalam artikel. Padahal, masyarakat New York masih "trauma" dengan peristiwa tersebut dan Islam.

Tak hanya mengandalkan cerita, film itu cukup berani membawa isu 9/11 dan Islam di Amerika Serikat. Namun, tak seperti di film, kondisi AS sudah jauh lebih baik. Proses syuting di New York hanya memakan waktu 1,5 bulan dengan dukungan izin pemerintah setempat. Biaya yang dikeluarkan pun tak sedikit. Produser film ini, Yoen K., mengakui bahwa BTDLA merupakan film termahal garapan production house-nya, yakni mencapai belasan miliar rupiah.
Yoen menjelaskan alasan atas pemilihan Rizal Mantovani sebagai sutradara. Menurut dia, Rizal memiliki tempo kerja yang cepat. "Kami ingin memberikan warna film yang berbeda dengan sekuelnya," jelas Yoen pada Jawa Pos.

Pergantian posisi pada bagian sutradara cukup memengaruhi atmosfer selama pembuatan film. Cara Rizal dan Guntur Soeharjanto memang berbeda. Bila Guntur lebih menonjolkan pengambilan gambar secara lanskap sehingga beberapa background akan memenuhi satu frame, Rizal justru merupakan sutradara yang mengutamakan pergerakan kamera yang lebih bebas dan ekspresif.
Menurut sutradara Rizal, perbedaan pengambilan gambar juga memengaruhi penampilan beberapa tokoh dalam cerita BTDLA.
Rangga (Abimana Aryasatya) yang biasanya sedikit berbicara akan lebih banyak berkomunikasi dalam film tersebut. "Rangga tetap tak melebihi Hanum. Namun, komunikasi verbalnya lebih banyak. Dari luar dia terlihat sibuk dan fokus dengan studinya. Tapi, dia juga khawatir sekali sama Hanum," ujar pemeran Rangga, Abimana Aryasatya.



SOUND TRACK DIGARAP BAND ASAL INGGRIS.

Internasional: Band asal Inggris, Arkarna dan Andini saat launching single, Kamis (10/12).(gbr: beritasatu.com)

Bukan hanya sinematografi yang berbujet besar, film Bulan Terbelah di Langit Amerika juga tak main-main dalam menentukan sound track filmnya. Band asal Inggris, Arkarna, mengisi sound track film tersebut dengan lagu berjudul Jangan Salahkan Cinta. FYI, Arkarna juga pernah mengisi sound track film Batman & Robin (1997).
Dalam lagu itu, Arkarna berkolaborasi dengan penyanyi muda asal Indonesia, Andini, untuk menggarap lagu yang menggunakan dua bahasa tersebut. Sesuai judul filmnya yang berbau internasional, sound track-nya pun digarap dengan kemasan internasional. Selain sound track-nya dibawakan penyanyi internasional, liriknya dibuat bilingual, yakni Indonesia dan Inggris. Kolaborasi Andini dan Ollie, Jacobs, vokalis Arkarna, dalam lagu bilingual itu cukup istimewa.
"Aku menyanyikan bagian lirik berbahasa Indonesia," ujar Andini dalam konferensi pers peluncuran single Jangan Salahkan Cinta di kantor Warner Indonesia, Gambir, pada hari Kamis (10/12).

Sementara itu, Ollie kebagian membawakan lagu berbahasa Inggris. "Untuk lirik berbahasa Inggrisnya, saya tulis sendiri," jelas Ollie. Lagu yang diciptakan Ollie bersama Johandi Yahya dan Dennis Nussy tersebut merupakan lagu cinta yang bercerita tentang kehilangan. Lagu ini sesuai dengan konflik yang terjadi dalam film, yaitu saat Rangga dan Hanum terpisah saat demonstrasi terjadi di New York.
Tak ada kesulitan berarti selama pengerjaan. Hanya, mereka memang membutuhkan penerjemah untuk penulisan lagu. "Tapi, kami sangat menikmati penggarapannya dan sangat terhubung dengan emosi Andini," ungkap Ollie.

VIDEO KLIP SOUND TRACK-NYA:





DATA FILM:

Sutradara: Rizal Mantovani.
Produser: Yoen K.
Penulis: Hanum Rais, Rangga Almahendra, Alim Sudio, Baskoro Adi.
Adaptasi: Novel Bulan Terbelah di Langit Amerika oleh Hanum Rais.
Pemain: Acha Septriasa, Abimana Aryasatya, Nino Fernandez, Rianti Cartwright, Hannah Al Rashid.
Produksi: Maxima Pictures.
Durasi: 96 menit.
Rilis: 17 Desember 2015.




SUMBER: Jawa Pos, 11 Desember 2015.