Rabu, 23 Desember 2015

SOCCERIOR: Cerita Riyad Mahrez yang Menjadi Rebutan di Bursa Transfer Januari...

Riyad Mahrez menjadi properti paling laris di bursa Januari mendatang. Padahal, sebelum bersinar bersama Leicester City, tak ada klub yang mau melirik potensinya.
______________________________________________________________________________________________________________________________________

(gbr: gettyimages.com)

Dana sebesar GBP 29 juta (sekitar Rp 596,1 miliar) sudah disiapkan Arsenal dan Manchester United. Dana tersebut disediakan untuk membajak Riyad Mahrez dari Leicester City. Nominal sebesar itu sangat fantastis bagi pemain yang pernah dianggap "sampah" oleh klub-klub Perancis itu.
Ya, sebelum didatangkan Leicester City pada musim panas tahun lalu, Mahrez sempat bermain di salah satu klub Ligue 2 Le Havre. Dia bergabung dengan klub tersebut sejak level akademi. Sebelum di Le Havre, dia hanyalah pemain dari klub amatir bernama Quimper. Quimper-lah yang menjadi klub pertamanya.
Daily Mail menyebutkan, kepindahannya ke Le Havre disebabkan klub pertamanya itu tidak bersedia menyodorkan kontrak. Salah seorang pelatih Quimper bernama Ronan Salaun menceritakan, klub bukannya tidak punya uang untuk membayar Mahrez. Namun, Mahrez dinilai kurang mumpuni.
"Saya masih ingat saat itu. Saya katakan kepadanya bahwa klub tidak mampu membayar kontraknya," kata Salaun pada L'Equipe.
"Lalu, dia menangis. Saya begitu tersentuh. Dia masih muda dan penuh ambisi," kenang Salaun.

Salaun mempersoalkan postur tubuh Mahrez saat masih muda. Sekarang, di usianya yang sudah 24 tahun, tinggi badan Mahrez sudah 178 sentimeter. Tapi, ketika masih belia, dia memiliki postur yang kecil. "Kami awalnya tidak yakin dengan kondisi fisiknya. Kami rasa, dengan ukuran tubuh seperti itu, dia bisa 'dimakan hidup-hidup' oleh bek lawan," tuturnya.
Kini Salaun dan Quimper hanya bisa menyesali keputusannya. Sebab, kalau saja saat itu mereka menyodorkan kontrak, mungkin mereka bisa kecipratan dana jika Mahrez direkrut salah satu klub elite musim depan. "Dan sekarang kami paham, tinggi badannya memang menipu," sesalnya.
Direktur AAS Sarcelles, Mohamed Coulibaly juga menyesalkan "kebodohan" Salaun dan Quimper. Sarcelles adalah sekolah sepak bola tempat Mahrez kali pertama menimba ilmu. Kepada So Foot, Coulibaly menilai, dari skill, Mahrez sebenarnya mumpuni sejak kecil. "Hanya, begitu dimasukkan ke 11 pemain untuk bertanding, dia malah lemah," kenangnya.

(gbr: sepakbolak.com)

Sekarang, setelah lima musim berlalu, Mahrez sudah bisa membuktikan bahwa dirinya adalah permata yang berharga. Talentanya layak dihargai. Dia bukan pemain lemah, melainkan pemain paling berpengaruh pada permainan tim. Statistik menunjukkan, Mahrez masuk 10 pemain top dengan kombinasi gol dan asis terbanyak di lima besar liga-liga di Eropa. Mahrez musim ini mencetak 10 gol dan 6 asis.

Mahrez mengaku trauma jika diajak bicara soal sepak bola dan klub-klub Perancis. Begitu traumanya, winger timnas Aljazair itu sampai membuat penegasan bahwa dirinya tidak akan bersedia bergabung dengan klub Perancis. Meskipun tawaran tersebut datang dari Paris Saint-Germain (PSG). Itu diungkapkannya kepada Goal. "Kalau dulu saat masih di Ligue 2, mungkin saya berpikir untuk melanjutkan karir saya di Ligue 1. Tetapi, kalau sekarang mereka baru melihat saya dan ingin saya kembali, saya katakan, 'Tidak. Lebih baik terus di sini (Leicester)'," tegas Mahrez.

Lalu, bagaimana kalau tawaran tersebut datang dari Arsenal dan Manchester United? Mahrez tersenyum saat mendengar tawaran tersebut. Dia menegaskan tidak akan meninggalkan Leicester yang tengah hot. Menurut dia, meninggalkan Leicester saat berada di puncak adalah tindakan bodoh. "Ketika mulai mencetak gol dan merasa lapar, Anda pasti ingin mencetak lebih banyak gol," tuturnya kepada Triball Football. "Saya tidak akan pergi Januari nanti. Saya nyaman di sini (Leicester)," ujarnya.




SUMBER: Jawa Pos, 22 Desember 2015.