Rabu, 20 April 2016

SOCCERIOR: Kebangkitan Parma setelah Ambruk karena Bangkrut...

Masa-masa suram, bangkrut, dan terjungkal ke Serie D telah usai. Parma, yang pernah dua kali mengecap juara Piala UEFA (kini bernama Liga Europa), akhirnya mulai bangkit setelah menjuarai kompetisi kasta keempat Italia itu.
__________________________________________________________________________________________________________

Bangkit: Para pemain, ofisial tim, dan suporter Parma merayakan keberhasilan meraih tiket promosi ke Lega Pro musim depan.(sumber gbr: twitter.com)

CUPLIKAN GOLNYA:


Stadion Ennio Tardini Parma, Italia, bergemuruh setelah wasit meniup peluit tanda laga Param kotra Delta Calcio Rovigo usai Senin lalu (18/4). Tifosi Parma yang memnuhi tribun penonton bersorak-sorai kegirangan. Bagaimana tidak, selain unggul 2-1, Parma mengukuhkan diri sebagai juara Serie D yang otomatis naik kasta ke Lega Pro musim depan.

Kesuksesan tersebut tentu menjadi angin segar di kala krisis keuangan yang dialami I Gialoblu -julukan Parma- setahun terakhir. Mereka terpaksa terjun ke divisi keempat setelah bangkrut dan terpuruk ketika masih berlaga di Serie A musim 2014-2015. Saat itu, AlessandroLucarelli dkk harus puas berada di dasar klasemen Serie A.
"Saya mengalami beberapa situasi emosional yang tidak terlukiskan hari ini," tutur Lucarelli setelah pertandingan dengan mata berkaca-kaca sebagaimana dilansir Gazzeta World. Ekspresi yang dia tunjukkan malam itu benar-benar membuat penonton terenyuh. Menjadi satu-satunya pemain yang bertahan di Parma, Lucarelli tahubetul sakitnya ditendang ke Serie D.
Bek 38 tahun itu mengatakan, kondisi Parma saat ini jauh lebih baik ketimbang saat-saat krisis tahun lalu. "Melihat ke belakang, kami seharusnya sudah berhenti bermain dan mengakhiri musim di Februari lalu," ujarnya pada New York Times.

Presiden Parma Nevio Scala sangat gembira. "Ini adalah puncak dari proyek perbaikan tim sebelumnya," kata Scala.
Mengubah cash flow pengelolaan keuangan tim yang lebih jelas dan transparan menjadi fokus utama. Pemegang saham tidak lagi diperbolehkan untuk seenaknya memakai uang tim tanpa persetujuan manajemen. Bahkan, saking tipisnya uang kas tim, Scala bersedia tidak dibayar sepeser pun di musim ini.
Sementara itu, bagi pemain dan ofisial, mereka hanya menerima gaji yang terbilang minimal. Misalnya, sang kapten Lucarelli. Dia bersedia dibayar jauh di bawah angka sebelum Parma bangkrut meski mungkin tahun ini menjadi musim terakhir Lucarelli bermain di lapangan.

Ferrari, salah seorang die hard fans Parma, menjadi salah seorang yang berperan penting dalam kebangkitan tim tercinta. Tidak rela apabila Parma dijual, Ferrari lantas mengumpulkan investor untuk memulihkan keuangan klub kesayangannya itu. Dia mencontoh gaya menajemen keuangan ala klub-klub Jerman yang menggunakan beberapa investor, bukan hanya milik satu orang.
Total ada enam investor yang bersedia membantu Parma. Di antaranya, Guido Barilla, pemilik pabrik pasta Barilla. Dan Gian Paolo Dallara, pemilik pabrik motor Dallara. Dari para investor tersebut, terkumpul 2,5 juta euro (Rp 34 miliar) dengan kalkulasi 75 persen saham klub. Sisanya, yakni 25 persen, dijual kepada fans.
Hanya dalam sepekan, sekitar 200 fans membeli saham klub kebanggaannya itu dengan minimum pembelian 500 euro (Rp 7,4 juta) hingga 40 ribu euro (Rp 597,7 juta). "Kami tidak ingin uang mereka (fans, Red). Kami hanya ingin loyalitas mereka, menjadikan mereka sebagai bagian dari tim," tutur Ferrari.

Momen kebangkitan Parma kini tidak hanya dirasakan sendiri. Namun, juga oleh para mantan pemain mereka. Buffon langsung mengungkapkan kegembiraannya di akun Facebook setelah mengetahui Parma promosi ke Lega Pro. "Saya sayang Parma Calcio 1913. Selamat datang di antara para profesional, kategori yang layak kalian dapatkan kembali. Saya tahu apa artinya jatuh, bangun lagi, dan berjuang untuk mendapatkan kembali tempat yang layak," tulis kiper yang kini berseragam Juventus itu.



SUMBER: Jawa Pos, 21 April 2016.