Selasa, 10 Mei 2016

Teropong IPTEK: Caligula, Kegilaan Akan Kekuasaan. [+Film Biopik Caligula (1979)]



(sumber gbr: flickriver.com)

Caligula, adalah kaisar Romawi pada masa suram. Di bawah kepemimpinan Caligula, Romawi berada di zaman kegelapan, dimana penyimpangan-penyimpangan terjadi di mana-mana. Dan puncaknya, Caligula yang bernama asli Gaius Julius Caesar Augustus Germanicus, membuat Romawi berada pada kegilaan.
Pada awal-awal kepemimpinannya, rakyat begitu gembira dan dia mendapatkan kekaguman karena royal pada rakyat. Dan untuk mendapat dukungan dari militer, dia memberikan bonus besar bagi prajurit, khususnya Pengawal Praetorian, yang berada di kota maupun di luar kota. Dia juga membantu orang-orang yang merasa telah dirugikan oleh sistem pajak kekaisaran sebelumnya. Dia sangat pandai memuaskan rakyat, seperti menyediakan pertandingan gladiator.

Enam bulan yang bahagia pada kepemimpinannya. Namun, sekitar bulan Oktober 37 M, Caligula mendapatkan sakit parah. Penyakitnya bahkan tidak diketahui oleh ahli pengobatan. Sakitnya tersebut membuat kekhawatiran besar bagi rakyatnya. Setelah sembuh dari sakitnya, Caligula terlihat menjadi pribadi yang berbeda dari sebelumnya.
Dia mulai paranoid dan ditutupinya dengan keangkuhannya. Beberapa sejarawan Yahudi, Kristen dan Muslim dari abad setelahnya bahkan beranggapan bahwa Caligula saat itu mungkin telah dirasuki setan.
Dia cemas dan mulai takut jika kekaisarannya akan direbut orang lain. Langkah pertama untuk mengokohkan kekaisarannya adalah dengan membunuh Tiberius Gamellus, yang merupakan saingannya dalam posisi pewaris tahta. Sebagian sejarawan percaya bahwa Tiberius Gamellus diracun olehnya. Bahkan, dia juga memaksa Marco, sekutu yang telah membantunya baik menjadi Kaisar untuk bunuh diri. Dia khawatir Marco akan membocorkan rahasia pembunuhannya pada Kaisar sebelumnya. Begitu juga Marcus Junius Silanus, ayah dari mendiang istrinya, Junia Claudilla, dipaksanya untuk bunuh diri dengan alasan yang tidak jelas.
Dia mulai memerintahkan pembunuhan terhadap siapa saja yang pernah tidak sepaham dengannya, atau bahkan tidak setuju terhadap keputusan-keputusannya. Gubernur yang baru pensiun dari Pannonia tidak luput diperintahkan untuk bunuh diri, karena khawatir ancaman makar.
Pernah sekali, pada saat acara gladiator kehabisan pemain,dan acara berikutnya adalah bertarung dengan singa. Ia memerintahkan pengawalnya untuk menyeret lima baris pertama dari penonton ke dalam arena. 

Kepribadian Caligula pun menjadi semakin tidak seimbang. Dia mulai mengakui dirinya sebagai Tuhan. Dia sering kali berdandan sebagai Apollo, Venus, Mercury, dan Hercules. Dia pun membangun sebuah altar tempat orang-orang harus menyembah dirinya. Dia juga memerintahkan agar rumah-rumah ibadat memajang patung dirinya.
Tindakan Caligula telah banyak yang diluar batas kewajaran. Dia menaikkan pajak yang tinggi untuk membantu membayar pengeluaran pribadinya. Rumah-rumah bordil bebas beroperasi dan harus membayar pajak. Bahkan, sebagian dari cerita sejarah dikatakan bahwa, dia telah membuat rumah bordil sendiri di sayap istana kekaisaran.
Kegilaannya akan seks semakin menjadi-jadi. Dia juga suka melakukan hubungan seks dimuka umum, saat perjamuan dan permainan. Kadang-kadang di atas meja di tengah makanan dengan ketiga saudarinya sendiri, Agrippina, Drusilla, dan Julia Livilla. Walaupun dari mereka ada yang telah bersuami.

Patung Caligula dengan kuda kesayangannya, Incitatus.(sumber gbr: exuimus.blogspot.com)

Kebijakan Caligula sudah diluar akal sehat. Dia mengajak kuda kesayangannya yang diberi nama Incitatus, untuk turut serta dalam jamuan makan malam bersama tamu-tamu yang rata-rata adalah Senator (setara Gubernur, Red). Bentuk sayangnya pada Incitatus, kuda tersebut diberi kalung dari batu mulia dan mengenakan jubah ungu. Kandangnya pun dibuat khusus di dalam istana, yang terbuat dari gading yang diukir.

Para sejarawan menggambarkan Caligula sebagai sorang Kaisar yang gila, egois, pemarah, suka membunuh hanya untuk kesenangan, suka foya-foya dan terlalu sering melakukan seks. Tanpa sepengetahuan Caligula, ternyata masih ada konspirasi lain yang akan segera menghancurkan semua kegilaannya itu. Caligula tidak mengetahui konspirasi pembunuhan untuknya sedang direncanakan oleh pengawal Praetorian, Marcus Arrecinus Clemens.
Untuk menghindari kecurigaan, mereka mengajak beberapa Senator untuk ikut dalam komplotan. Salah seorang dari mereka bernama Cassius Chaerea, seorang petugas Praetorian, bersedia untuk menjadi pengeksekusinya. Dia memang menaruh dendam pada Caligula karena pernah diejek didepan umum saat sidang senat. Chaerea dikatakan banci karena mempunyai suara yang kecil dan tidak mampu untuk mengumpulkan pajak.

Lukisan ilustrasi pembunuhan Kaisar Caligula.(sumber gbr: ancient-origins.net)

Pada tanggal 24 Januari, tahun 41 M, Chaerea dan pengawal lainnya mendatangi Caligula yang sedang menangani sekelompok pemuda yang bermain drama, yang diadakan untuk memperingati leluhurnya, August. Chaerea langsung menusuk Caligula, dan diikuti oleh sejumlah konspirator lain. Kematian Caligula sangat mirip dengan Julius Caesar. Dia mendapatkan 30 kali tikaman oleh komplotan pimpinan Chaerea.
Para Senator berusaha memanfaatkan kematian Caligula sebagai kesempatan untuk mengembalikan Republik. Walau sedikit mendapat perlawanan dari pasukan Jerman yang setia pada Kaisar, isu perlawanan tersebut dihembuskan dari pihak keluarga Caligula, yang merasa tidak nyaman yang berlama-lama dengan dukungan Kaisar yang semakin meluas. Mereka menuntut agar pembunuh Caligula di bawa ke pengadilan. Maka para pembunuh Caligula mencari dan menikam istri Caligula yang keempat, Caesonia, dan membunuh anak perempuannya juga, Julia Drusila, dengan cara menghancurkan kepalanya ke dinding.


FILMNYA:



SUMBER: Jawa Pos | Radar Mojokerto, 20 Desember 2015.