Kamis, 10 September 2015

HUMANIS: Menyaring Informasi di Medsos...



(gambar: webtitan.com)

Dunia media sosial (medsos) memang memudahkan pengguna untuk mencari informasi. Celakanya, kadang kemudahan itu justru kerap disalahgunakan untuk menyebarkan kebohongan. Sejumlah kabar hoax (bohong) sengaja diembuskan dengan berbagai macam tujuan. Yang paling keji adalah menghancurkan karakter seseorang.

Kasus terbaru di Indonesia adalah serangkaian kultwit oleh seorang anggota DPD. Dalam kultwit yang dilengkapi foto itu, disebutkan ada satu masjid yang jamaahnya seolah-olah dihalang-halangi Pemprov DKI Jakarta dengan barikade tembok dan kawat berduri untuk beribadah. Untuk efek dramatis, diberi foto anak kecil dengan tembok berduri dan diberi tagar #GazaInJakarta. Terkesan seperti warga Palestina yang dihalang-halangi ketika hendak beribadah di Masjidilaqsa.
Belakangan diketahui bahwa masjid tersebut ternyata berada di lahan sengketa antara pengembang dan warga. Yang lebih penting, jalan terbuka lebar (untuk beribadah dimasjid tsb, Red). Bagaimana dengan foto-foto yang dramatis tersebut? Ternyata, itu adalah setingan.
Setelah kabar tersebut diklarifikasi, anggota DPD tersebut hanya menyatakan bahwa semua itu adalah kiriman konstituennya. Padahal, banyak netizen yang sudah terpengaruh dan siap-siap bergerak untuk menghancurkan blokade tersebut.

Di tingkat internasional, ternyata ada satu kantor berita kecil di Inggris yang gemar mem-posting berita-berita aneh yang belakangan diketahui hoax. Namanya Central European News (CEN).
Pernah dengar tentang seorang perempuan cantik Tiongkok yang berencana berkeliling dunia dan bersedia tidur dengan siapa saja yang bersedia menampung akomodasi tempat tujuan?
Itu adalah karya CEN.
Pernah membaca seorang pria yang selamat dari serangan beruang gegara ringtone suara Justin Bieber?
Itu juga tulisan CEN.
Setelah sejumlah LSM pemantau media internasional menelusuri, ternyata berita-berita itu adalah hoax belaka. Padahal, peredarannya sudah begitu luas, terutama melalui news feed di Facebook.
Tidak bisa diverifikasi. Ketika tempatnya didatangi, tidak ada yang pernah tahu kabar seperti itu. Resepnya sederhana; mendapat ide berita ngawur, cari lokasi yang sulit diverifikasi, diberi ilustrasi foto setingan, maka jadilah.
Bisa ditebak, motivasinya adalah menjual sensasi. Berita-berita seperti itulah yang kemudian laku dibaca netizen. Buktinya, CEN sempat dibanjiri pesanan berita dari media-media mainstream.

Kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa perlu upaya ekstra untuk memfilter informasi yang beredar di media sosial. Banyak orang yang bisa mengakses tanpa verifikasi atas berita tersebut.
Karena itu, sebaiknya lebih berhati-hati untuk tidak langsung percaya dan langsung mengecam atau meyakini sebuah kabar tertentu di media sosial. Bisa saja berita tersebut adalah hoax.


SUMBER : Jawa Pos, 28 Juni 2015.